RSS

Memperingati Proklamasi Kemerdekaan: Bahasa Indonesia, dari Melayu ke Persatuan Nusantara

29 Aug

Oleh: Ratih Dewi

PADA HARI KEMERDEKAAN RI YANG KE-65, saya membaca buku-buku tentang sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia. Ada empat buku yang saya baca, diterbitkan tahun ’40, ’60, dan ‘81, dan ’95. Keempatnya berisi bunga rampai atau kumpulan artikel yang mengusung tema bahasa Indonesia. Buku-buku ini memberikan kesan yang mendalam tentang sejarah pembentukan dan perkembangan bahasa Indonesia. Hal pertama yang patut diketahui, bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang ini ternyata sangat jauh berbeda dengan “bahasa ibunya”, yakni bahasa Melayu. Hal penting lainnya, hakikat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan adalah sangat benar adanya.

Kita semua tahu, bahasa Indonesia satu rumpun dengan bahasa Melayu. Mengapa akhirnya bahasa Indonesia sangat berbeda dengan bahasa Melayu itu disebabkan perkembangannya yang begitu dinamis dan signifikan. Perkembangan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia awalnya mirip dengan perkembangan bahasa Inggris di Amerika dan Australia. Gramatika atau jalan bahasanya sama, tetapi ada pengucapan yang berbeda dan sejumlah kata yang maknanya tidak sama. Dapat dikatakan, bahasa Indonesia merupakan bahasa Melayu yang telah menyerap berbagai bahasa, antara lain Sansekerta, Arab, China, Portugis, Belanda, Inggris, serta beragam bahasa daerah, misalnya bahasa Jawa.

Dahulu, bahasa Melayu dipakai masyarakat dari Semenanjung Malaka hingga Maluku sebagai bahasa pergaulan. Sungguh menakjubkan ketika bangsa Eropa pertama kali datang ke Nusantara, bahasa Melayu sudah mempunyai kedudukan yang tinggi di tengah bahasa-bahasa daerah, bahkan di Timur Nusantara. Pigafetta yang ikut dalam pelayaran Magelhaen membuktikan hal tersebut saat kapalnya berlabuh di Tidore tahun 1521. Ia mencatat daftar beberapa kata Melayu yang digunakan masyarakat di sana. Sebagai lingua franca, bahasa Melayu eksis dan tumbuh sedemikian rupa di antara berbagai ragam bahasa daerah.

Sriwijaya yang berjaya dari abad ke-7 hingga 11 adalah kerajaan Nusantara pertama yang resmi memakai bahasa Melayu (saat ini disebut sebagai bahasa Melayu Kuno) sebagai bahasa kerajaan—terlihat dari prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo berangka tahun 680 Masehi. Selepas kerajaan Sriwijaya, kerajaan Malaka pada abad ke-14 hingga 16 juga tercatat memakai bahasa Melayu. Bedanya, pada Sriwijaya bahasa Melayu dipengaruhi ajaran Hindu yang menyumbang kosakata bahasa Sansekerta, sedangkan pada Malaka bahasa Melayu dipengaruhi ajaran Islam yang menyerap kosakata bahasa Arab. Itulah sebabnya, pada Sriwijaya, tulisannya masih menggunakan huruf Pallawa. Sebaliknya, pada Malaka tulisannya menggunakan huruf Arab-Melayu. Disebut Arab-Melayu karena bunyi bahasa (fonem) Melayu telah disesuaikan dengan bunyi bahasa Arab, bahkan beberapa bunyi yang tak ada lambangnya ditambahkan dalam huruf Arab tersebut. Setelah itu, bahasa Melayu terus berkembang hingga kerajaan Aceh dan Johor-Pahang.

Kedatangan Inggris kemudian mempengaruhi kedudukan bahasa Melayu. Gubernur Jenderal Inggris, Raffles mendirikan Singapura tahun 1819—hal ini memicu persaingan antara Inggris dan Belanda di Semenanjung Malaka. Akibatnya, melalui Perjanjian London 5 tahun berikutnya kerajaan Johor-Riau-Pahang dan Lingga dibelah dua, Johor-Pahang jatuh ke tangan Inggris, sedangkan Riau-Lingga jatuh ke bawah kekuasaan Belanda. Inilah awal perbedaan bahasa Melayu di bagian utara (Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam) dan di bagian selatan (Indonesia).

Penguasaan Belanda atas Nusantara dihadapkan pada tiga kemungkinan pemakaian bahasa, yakni bahasa daerah, Melayu, atau Belanda. Karena pemakaian bahasa Belanda masih sulit—hanya kaum terpelajar saja yang bisa—maka bahasa Melayu menjadi pilihan terbaik. Namun, pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi juga tidak mudah, setidaknya ada tiga macam bahasa Melayu yang digunakan pada saat itu. Pertama, bahasa Melayu pasar yang telah bercampur dengan berbagai bahasa dan dialek, khususnya bahasa China. Kedua, bahasa Melayu dialek yang terpengaruh bahasa daerah setempat, dan ketiga bahasa Melayu Riau. Yang terakhir inilah yang dijadikan standar bagi pendidikan dan pengajaran bahasa Melayu di Nusantara, serta cikal bakal pembentukan bahasa Indonesia pada nantinya.

Tindakan Belanda yang meresmikan bahasa Melayu (saat itu dikenal sebagai Melayu Tinggi) sebagai bahasa resmi kolonialisme Hindia-Belanda ternyata berdampak sangat positif. Bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa pengantar sekolah-sekolah bumi putera dan dibina melalui penerbitan buku Balai Pustaka tahun 1920-an. Itu pula yang memicu kesadaran rakyat terutama kaum terpelajar untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu sehingga muncullah Sumpah Pemuda 1928.

Pertanyaannya, mengapa frase ”satu bahasa” yang disebut dalam Sumpah Pemuda adalah bahasa Indonesia, bukan Melayu? Ternyata ada makna politis di balik sumpah tersebut. Meskipun bahasa Melayu dirasa sebagai milik bersama dan telah menjadi lingua franca rakyat Nusantara selama berabad-abad, kata ”Melayu” dianggap menyimbolkan kesukuan. Bangsa ini perlu suatu ”bahasa baru” yang akan mempersatukan daerah-daerah di Nusantara karena melalui bahasa, akan tercipta suatu identitas atau jati diri bangsa. Bangsa Indonesia sesungguhnya merupakan kumpulan bangsa yang mendambakan kemerdekaan, kebebasan dari kolonialisme Belanda. Bangsa Indonesia bukanlah bangsa homogen, tetapi terdiri dari beragam suku bangsa yang mempunyai persamaan nasib untuk lepas dari penjajahan. Itu sebabnya, dalam Pancasila kita menyatakan ”persatuan Indonesia” bukan ”penyatuan Indonesia” karena suku-suku bangsa Nusantara memutuskan untuk ”bersatu” dan bukan ”menyatu”. Di dalam kata ”bersatu” ada makna identitas yang tidak hilang, melainkan mengesampingkan perbedaan untuk satu tujuan. Berbeda dengan kata ”menyatu” yang berarti melebur menjadi satu dengan menghilangkan identitas untuk mencapai identitas yang baru. Suku Melayu, Batak, Dayak, Jawa, Bali, Bugis, Ambon, dan Papua tetap ada, tetapi bergandengan tangan membentuk suatu bangsa dan negara bernama Indonesia. Konsep persatuan ini juga jelas terlihat dari moto negara kita, Bhinneka Tunggal Ika.

Sejak awal, para Bapak Bangsa ternyata telah mengetahui satu cara yang luar biasa untuk mempersatukan bangsa, yakni dengan pengakuan terhadap bahasa. Kesamaan bahasa dapat menjadi dasar persatuan karena hanya dengan bahasa yang sama itulah kita dapat mengungkapkan perasaan dan menyampaikan pemikiran kita. Singkatnya, selain karena faktor perjuangan para pahlawan, bangsa Indonesia dipersatukan oleh bahasa Indonesia.

Kata “Indonesia” mula-mula disebut oleh seorang Jerman, bernama A. Bastian (1884)—nesia dari bahasa Yunani nesos yang berarti pulau, sedangkan indo sama artinya dengan Indo-German, yakni bangsa yang pernah mengecap peradaban Hindu. Nah, kata inilah yang kemudian dipilih untuk menamai bangsa yang genap 65 tahun merdeka.

Akhir kata, saya ucapkan selamat Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa—bahasa Indonesia.

 
2 Comments

Posted by on 29 August 2010 in Uncategorized

 

2 responses to “Memperingati Proklamasi Kemerdekaan: Bahasa Indonesia, dari Melayu ke Persatuan Nusantara

  1. shohib

    29 August 2010 at 14:04

    nice post ratih :-) btw, berarti kita berhutung kpd belanda ya..tp belanda jg menciptakan bumerang untuk dirinya sendiri. karena adanya bahasa indonesia, kesadaran nasionalisme tumbuh di kalangan masyarakat. akhirnya belanda jg yg rugi..

     
  2. aad

    14 September 2010 at 16:09

    tulisan yang bagus ratih. hehe… maaf baru baca. hanya sedikit ada yang mengganjal tentang “satu bahasa”. seperti yang ratih tulis saat menjelaskan Sumpah Pemuda dan pada kalimat terakhir: Satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa—bahasa Indonesia.

    bukankah pada Sumpah Pemuda berbunyi: menjunjung tinggi bahasa persatuan. bukan satu bahasa. seperti juga kata ratih, persatuan bukan menafikan pihak2 yang bersatu. dengan demikian, lebih baik jika kita terbiasa menggunakan bahasa persatuan, bukan bahasa satu. karena bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan di antara banyak bahasa2 lainnya di Nusantara.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 44 other followers

%d bloggers like this: