RSS

Mandela 92

19 Jul

Oleh: Ismail Fahmi

“PIALA DUNIA, TROFI BAGI MANDELA”. Rektor Paramadina Anies Baswedan menulis di Kompas hari ini (19 Juli 2010). Seperti halnya Anies, ribuan orang lainnya pun tergoda untuk menulis tentang Mandela, legenda hidup dan teladan warga dunia.

Nelson Mandela dibebaskan dari penjara di Rhoben Island pada 11 Februari 1990. Publik dunia tidak banyak yang tahu wajah persis Mandela sebelum terekspos pasca dibebaskan. Citra yang mengemuka saat itu adalah dibebaskannya seorang pejuang anti-apartheid yang teguh pendirian dan lembut hati. Bebasnya Mandela pun menandakan keruntuhan rezim apartheid.

Saat Mandela dibebaskan saya duduk di kelas 3 SD. Saya ingat betul bagaimana tiba-tiba Mandela begitu populer di telinga. Saya pun kerap melihat wajahnya yang ramah di program berita stasiun televisi pemerintah dan surat kabar terkemuka ibukota langganan ayah saya.

Menahkodai Perahu Limbung

Tahun 1994, Mandela terpilih secara demokratis menjadi presiden Afrika Selatan. Optimisme dan pesimisme bercampur baur. Warga kulit hitam dan kulit putih belum benar-benar padu.

Sekalipun hanya penduduk minoritas, kulit putih memegang sektor-sektor kunci seperti di bidang ekonomi dan pemerintahan. Sementara warga kulit hitam yang mayoritas tidak memegang sektor-sektor kunci akibat terpinggirkan oleh sistem apartheid yang mengakar puluhan tahun. Pantas jika kebencian pun masih ada dan mengendap di dalam lubuk hati warga kulit hitam. Mandela sadar sepenuhnya, kondisi tersebut merupakan bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu.

Mandela punya pekerjaan rumah besar, menyatukan Afsel dari ancaman perpecahan. Sejak awal Mandela pun memilih menjadi ’pelindung’ warga kulit putih. Ia memulainya dengan memaafkan para pejabat mantan pemangku rezim apartheid. Sikap yang diharapkan akan diikuti warganya yang kulit hitam untuk tidak membalas dendam.

Membaca Afsel dari “Invictus”

Beberapa hari sebelum Piala Dunia digelar di Afrika Selatan, saya dan istri menyaksikan film ”Invictus”. Film yang bagi saya terdengar asing karena sudah cukup lama tidak meng-update kabar dunia perfilman. Film yang dibuat tahun 2009 itu bercerita tentang kemenangan Afrika Selatan di ajang Piala Dunia Rugby pada tahun 1995. Film itu menggambarkan bahwa Rugby mampu menyatukan Afrika Selatan pasca runtuhnya rezim Apartheid.

Tahun 1995 Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugby. Namun, Mandela, melihat tim Rugby Afrika Selatan tidak disukai penduduk berkulit hitam Afsel. Mereka menilai tim Springboks (nama panggilan tim Rugby Afsel) merupakan salah satu warisan rezim kulit putih yang hanya mengakomodir kalangan putih saja.

Mandela pun melihat tantangan tersebut dengan cerdik dan bijaksan. Mandela justru yakin, potensi konflik yang ada di belakang persoalan dukung mendukung timnas rugby Afsel, ada peluang untuk mempersatukan warga Afsel.

Mandela tidak banyak tahu tentang olahraga rugby. Ia pun menyelesaikan pekerjaan rumah pertamanya dengan mempelajari rugby. Dengan bantuan orang-orang terdekatnya, Mandela pun mulai memahami rugby.

Menjelang dan seiring berjalannya Piala Dunia, Mandela melobi banyak kalangan untuk mendukung Springboks. Mandela mendatangi lembaga olahraga Afsel (semacam KONI di Indonesia) yang didominasi kulit hitam. Lembaga tersebut awalnya berencana mengganti nama tim Springboks dan mengisi skuad baru dengan mayoritas kulit hitam.

Rencana tersebut pun batal setelah Mandela turun tangan. Mandela meminta agar nama dan formasi Springboks dipertahankan. Saat itu Springboks didominasi pemain kulit putih dan hanya menyisakan Chester Willliams sebagai satu-satunya pemain berkulit hitam.

Mandela juga memanggil kapten tim Springboks, Francois Pinnear, ke istana. Pinnear menangkap pesan Mandela, bahwa Springboks bisa menjadi alat pemersatu Afsel yang masih diwarnai kebencian etnis pasca apartheid.

Bagi Pinnear, dorongan dari Mandela itu merupakan aset mahal yang cukup untuk membakar semangatnya dan juga semua anggota tim lainnya untuk menjadikan Springboks juara dunia.

Dukungan penuh presiden pun lambat laun mencairkan kebencian hitam-putih. Seiring berjalannya piala dunia, dukungan dari kaum hitam mulai bermunculan. Di luar dugaan Afsel yang tidak diunggulkan malah menampilkan permainan memikat. Springboks pun memenangkan satu demi satu pertandingan, termasuk mengalahkan juara bertahan Australia di babak penyisihan. Afsel akhirnya melaju hingga babak final bertemu All Blacks Selandia Baru. Dukungan dari warga kulit hitam pun membesar.

Menjelang partai final, Pinnear dkk. diajak ‘berwisata’ ke penjara Rhoben Island dan melihat sel kecil tempat Mandela menghabiskan 27 tahun usianya. Pinnear bergumam dalam hatinya, betapa mulianya Mandela yang mampu memaafkan orang dan rezim yang pernah memenjarakannya berpuluh tahun.

Kunjungan ke penjara tersebut menjadi modal besar bagi tim Springboks untuk menghadapi partai Final. Afsel yang tetap tidak diunggulkan akhirnya mengandaskan impian All Blacks yang saat itu sangat diunggulkan. Springboks pun menjuarai Piala Dunia rugby 1995.

Mandela lalu turun ke lapangan dengan mengenakan kostum kebanggaan Springbok untuk merayakan kemenangan. Di hadapannya, enam puluh ribu penonton bersorak dan berjingkrak riang.

Kalimat manis lalu terlontar dari kapten Springboks, Francois Pinnear ketika ditanya seorang wartawan, ”Piala ini bukan saja untuk 60 ribu penonton di dalam stadion, namun untuk semua warga Afrika Selatan”.

Piala Dunia Kado Dunia untuk Mandela

Lima belas tahun berlalu sejak peristiwa bersejarah itu. Tahun ini Afsel pun kembali menerima pujian atas kesuksesannya menyelenggarakan Piala Dunia pertama di benua Afrika. Bafana-Bafana memang tidak berhasil menggondol Piala Dunia, bahkan tidak mampu lolos dari grup 1 ke babak perdelapan final.

Walaupun begitu, Afsel mampu membuktikan bahwa Afrika bukan lagi benua ’hitam’.  Bersama Mandela, Afsel sukses menggelar hajatan akbar di usia muda negara yang relatif baru terbebas dari cabikan ’perang saudara’.

Kemarin, Bokke, begitu Mandela akrab disapa, berulangtahun yang ke-92. Di usianya yang jelas tidak lagi muda, Mandela tetap gagah dengan senyum khasnya. Dunia pun merayakan dan menyebut hari di 18 Juli itu sebagai ”Mandela Day”. Sebuah persembahan dari dunia untuk Mandela sebagai sebuah kepatutan. Karena Mandela adalah legenda hidup dunia.

 
Leave a comment

Posted by on 19 July 2010 in The Diplomats

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: