RSS

GLOBALISASI vs NASIONALISME : Mencari Identitas Bangsa

23 Jul

Oleh : Pandu Utama Manggala.

DUNIA INTERNASIONAL sekarang adalah dunia yang diwarnai globalisasi. Dunia menyempit. Perkembangan teknologi, telekomunikasi, dan transportasi memunculkan kecenderungan kemiripan individu, kelompok, dan sistem sosial. Batas tradisional negara terhapuskan.

Secara sosial, ekonomi, maupun politik, globalisasi memungkinkan terjadinya pergeseran citizenship dan kesetiaan dari keterikatan nasional ke keterikatan global.[1] Tetapi, pemahaman tenggelamnya konsep nation state Westphalia jangan dipahami sebagai sesuatu yang given akibat globalisasi.

Tulisan ini menjabarkan bahwa state tetap berupaya menjadi entitas yang kuat dalam dunia internasional. Caranya dengan membangun nasionalisme lewat pengekspresian identitas state tersebut. Selain itu, akan dibahas juga bagaimana permasalahan globalisasi dan nasionalisme dihadapi oleh sebuah nation-state bernama Indonesia.

Pencarian identitas nasional

Paul Kowert menyebutkan bahwa identitas adalah permainan bahasa yang diungkapkan terus menerus. Identitas state dengan demikian selalu merupakan sesuatu yang intersubjektif. Keberadaannya selalu ditentukan bersama dengan yang lain. Pemaknaan identitas nasional suatu negara oleh karenanya bisa dicari lewat pemahaman budaya[2] yang embedded dalam masyarakat.

Salah satu cara membangun intersubjektif demi terwujudnya identitas kolektif, state perlu memproteksi pelaku industri budaya (culture industries). Culture Industries yang dimaksud adalah industri-industri yang memperlihatkan budaya atau karakteristik dan ide mengenai suatu negara misalnya lewat industri film, siaran radio dan televisi, buku, dan lainnya.

Culture industries berperan penting dalam membangun komunitas politik lewat shared images, ideas, and definitions yang akan menegaskan kembali mengenai identitas nasional mereka agar loyalitas kepada negara terbangun. Rekonstruksi identitas bangsa oleh culture industries ini akhirnya akan membuat nilai nasionalisme terinternalisasi di dalam masyarakat.

Spektrum identitas nasional dalam sebuah konteks hubungan sosial maupun antarbangsa ini telah mengubah konsepsi mengenai state yang berhadapan dengan discourse globalisasi yang selalu dipahami akan meng-erosi keberadaan state. Penguatan culture industries memperlihatkan bahwa state telah memberikan ruang bagi indigenous discourse dalam menghadapi narasi-narasi besar yang hadir dalam globalisasi.

Bagaimana dengan Indonesia?

“No Sir! Kami tidak ambruk!

Bersama-sama rakyat Indonesia,

kita akan pecahkan segala kesulitan-kesulitan itu,

Bersama-sama kita akan ganyang kesulitan itu”

-Soekarno, 1964

Dalam membahas mengenai identitas dalam nation state Indonesia, penulis akan mengajukan tiga pertanyaan mendasar.

Pertama, masih adakah rasa nasionalisme dan rasa cinta kita terhadap negara bernama Indonesia? Agaknya pertanyaan tersebut patut direnungkan kembali di tengah identitas nasional bangsa Indonesia yang mulai luntur. Alih-alih mencoba mengangkat Indonesia dari keterpurukannya, kebanyakan masyarakat Indonesia malah merasa malu menjadi seorang Indonesia. Hal ini menciptakan kekosongan nilai-nilai dan jati diri individu di hadapan sosialitasnya. Bukannya berupaya membangun identitas Indonesia lewat penguatan culture industries, film-film di Indonesia malah terus menerus memproduksi kekosongan nilai lewat penghadiran tema-tema horor tak cerdas dan cinta dangkal remaja.

Mungkin baru film Nagabonar dan Laskar Pelangi yang penulis lihat berupaya mengangkat kembali discourse-discourse mengenai keindonesiaan. Film ini berusaha memperlihatkan aktualitas nilai nasionalisme di tengah zaman yang sudah berubah. Bentuk aktualitas nilai tersebut misalnya diperlihatkan dengan penolakan Bonaga (anak Nagabonar) untuk merekayasa pajak walaupun sebenarnya ia dapat melakukan hal tersebut.

Ada juga Alangkah Lucunya (Negeri ini) yang berupaya membuka mata kita tentang pendidikan, pengangguran, kerasnya hidup di jalanan, serta kritik pada pemimpin negeri ini. Akan tetapi, tanpa pemahaman, film ini hanya akan sekedar menjadi komedi belaka. Tanpa tahu apa maksud indonesia raya dinyanyikan dan disertai “Amiiinnnn.” Tidak merasa adanya sindiran ketika si calon anggota dewan hanya memandangi gambar ikan di laptopnya. Dan tertawa ketika seorang waria diseret satpol PP. Semoga masyarakat yang menonton cukup cerdas, agar satir yang ditampilkan tak sekedar menjadi humor saja.

Film seperti Nagabonar , Laskar Pelangi, dan Alangkah Lucunya (Negeri ini) inilah yang seharusnya terus diangkat untuk menjadi “lem perekat” emosional diantara masyarakat Indonesia. Rekonseptualisasi identitas nasional Indonesia bisa dimulai dan dimaknai dengan cara memandang kita oleh kebiasaan kita sendiri, atau dengan kata lain melihat realitas yang ada dalam masyarakat.

Pertanyaan berikutnya yang bisa diajukan kemudian mengarah pada adakah kebudayaan yang sungguh-sungguh tunggal di dunia ini sehingga suatu komunitas dapat mengidentifikasi dirinya dengan kebudayaan itu? Pada kenyataannya kebudayaan lebih bergerak pada prosesnya sendiri dengan persinggungan berbagai kebudayaan yang lain. Identitas pun demikian, telah bersinggungan dengan berbagai identitas-identitas yang lain, sehingga identitas nasional suatu negara pun bisa beragam dan harus bisa mengakomodir afiliasi majemuk. Identitas yang tunggal dan tanpa pilihan tidak hanya akan membuat suatu negara menjadi kerdil, melainkan pula akan membuat dunia jauh lebih membara.[3]

Indonesia dengan masyarakatnya yang majemuk dan multikultural harus dapat memaknai identitas nasional secara tepat agar tidak terjerumus ke dalam semangat partikularisme yang menjebak masyarakat dalam identitas-identitas yang sangat emosional dan mendalam, yakni identitas seperti agama dan etnis. Reinventing Indonesia harus dilakukan dalam mencari identitas yang benar-benar melekat pada sosok masyarakat bangsa dan negara. Untuk itu, penulis berpendapat bahwa konsep yang cocok untuk mengakomodasi masyarakat Indonesia yang multikultural adalah Pancasila. Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity).

Lebih lanjut, Bhineka Tunggal Ika jangan diartikan secara sempit menjadi penyeragaman semua etnis dan suku di Indonesia menjadi satu Indonesia melainkan bahwa seluruh etnis di Indonesia tetap diangkat sebagai identitas masyarakatnya, dengan tetap berwadah kepada Indonesia. Setiap orang Indonesia harus merasa bangga terhadap keindonesiaan mereka, meskipun ada identitas Jawa, Sunda, Batak, dan lainnya. Meminjam istilah Azyumardi Azra, Rejuvenasi Pancasila harus dilakukan untuk memperbaiki kesalahan pemaknaan tunggal atas Pancasila yang dilakukan Orde Baru. Tahap awalnya bisa menjadikan Pancasila sebagai public discourse untuk dapat dimaknai terus menerus, sehingga tetap relevan dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Dalam ranah kita sebagai diplomat, menjadi signifikan pula kemudian untuk kembali memproyeksikan identitas Indonesia sebagai Negara Pancasila melalui instrument Politik Luar Negeri, sebagai upaya untuk membangun intersubjectivity discourse, baik di dalam negeri maupun di tataran internasional.

Terakhir, penulis akan bertanya maukah masyarakat Indonesia bangga dengan keindonesiaan mereka? Orang Malaysia berani membuat kaos yang bertuliskan “Saya Orang Malaysia” dengan merunut hal-hal yang membuat seorang Malaysia bangga untuk menjadi orang Malaysia. Akankah kita melihat kaos serupa yang bertuliskan “Saya Orang Indonesia”, yang merunut berbagai hal yang bisa dibanggakan dari Indonesia untuk dapat menegaskan invisible borders negara yang bernama Indonesia?

Sebagai kesimpulan, dalam globalisasi vis-á-vis nasionalisme, bukan isu spasial yang kian mengerut sekaligus mengglobal, melainkan suatu “kebedaan” dalam banyak makna yang terus diperdebatkan. Oleh karena itu, nilai nasionalisme harus terus dibangun agar tidak tergerus globalisasi. Sehingga “kebedaan” borders negara dengan yang lain dapat terus terlihat, dan dengan begitu tidak akan mengikis eksistensi entitas yang disebut state.


[1] DR. A. A Banyu Perwita dan DR. Yanyan Mochamad Yani, Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005), hlm. 136.

[2] Budaya adalah konsep yang elusive dan mendalam, karena konsep ini berhubungan dengan bagaimana kita mengenal diri kita sendiri dan orang lain. Lihat Patricia M. Goff, Invisible Borders: Economic Liberalization and National Identity, (Oxford: Blackwell Publishers, 2000), hlm. 544.

[3] Amartya Sen, Kekerasan dan Ilusi tentang Identitas, (Tanggerang: Marjin Kiri, 2006), hlm. 23-24.

 
Leave a comment

Posted by on 23 July 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: