RSS

Security Dilemma

15 Aug

Oleh: Alfan Amiruddin*

DAHULU bayangan manusia tentang konsep security dipengaruhi oleh pencitraan perang yang berada di level high politic. Sekarang saatnya konsep security dilihat sebagai hal paling mendasar bahwa security dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri. Sejak peristiwa Black September dan pandemi flu, semua sadar bahwa ancaman bagi manusia tidak hanya perang.

Coaffe dan Murakami-Wood menyatakan dalam artikelnya bahwa security telah menjadi masalah domestik dan personal, dan kebanyakan lupa bahwa bahwa semua dimulai dari rumah, security is going home.

Pernahkan kita merasa tidak aman pulang malam sendirian? Pernahkan kita merasa tidak aman ketika belum menerima hak yang seharusnya kita terima? Apakah kita merasa tidak aman melihat jumlah halaman Taskap seorang kawan (ups sorry ;p) sudah lebih banyak (disebut security dilemma oleh seorang teman (‘-_-) ) ? Pasti kebanyakan dari kita pernah merasakan. Masalahnya adalah bagaimana cara menghilangkan ketakutan akan ancaman itu.

Ada dua pihak yang dapat melegakan kita dari semua ancaman. Pertama adalah negara dan kedua adalah diri kita sendiri dalam memandang ancaman.

Negara memegang peranan untuk beberapa human security seperti menjaga negara dari ancaman kriminal. Sedangkan yang bisa diri kita lakukan adalah mulai waspada dengan ancaman dan melakukan manajemen ketakutan.

Singkat kata, manajemen ketakutan diantaranya adalah melihat ancaman sebagai sebuah kesempatan dan tantangan. Contohnya jika teman-teman belum mulai mengerjakan Taskap, bisa menjadikan jumlah halaman teman lain sebagai motivasi. Jika pulang sendiri pada malam hari teman-teman bisa mencari teman yang juga insecure karena pulang sendiri hehe.

Sebagai simpulan, kita jangan abai melihat masalah human security karena masalah ini ada di sekitar kita. Dan ketika ketakutan itu datang, lihatlah secara tenang. Manajemen ketakutan bukanlah sesuatu yang mudah, tapi manusia lampau berhasil mengatasi banyak ketakutannya, dan sekarang giliran kita, manusia kini.

—————

*) penulis adalah alumnus Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

 
Leave a comment

Posted by on 15 August 2010 in Diplomatologi

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: