RSS

Ping Pong Diplomacy

17 Aug

Oleh: Shohib Masykur (Alumnus Ilmu Hubungan Internasional UGM, penggemar ping pong. Tulisan ini juga bisa dilihat di http://thepenguinus.blogdetik.com)

TENTANG peran ‘orang-orang kecil’ dalam diplomasi dan bagaimana berbagai peristiwa kebetulan turut menentukan jalannya sejarah.

Dilihat dari sudut pandang ping pong, seluruh manusia di dunia ini bisa digolongkan ke dalam 4 macam:

Pertama, orang yang tidak suka sama sekali bermain ping pong. Orang-orang ini bisa jadi tidak pernah sekalipun seumur hidupnya memegang bola ping pong, bet, maupun net. Atau jika pun pernah, mereka melakukannya secara sambil lalu. Mirip orang yang pernah lewat di daerah tertentu namun segera lupa dan tak pernah mengingat-ingatnya lagi serta tak ada keinginan untuk melewatinya kembali.

Kedua, orang yang menganggap ping pong tak lebih dari sekedar keisengan di waktu senggang. Orang ini kadang bermain ping pong, namun mereka melakukannya jika dan hanya jika mereka punya waktu luang dan tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan. Mereka tidak terlalu menikmatinya dan tidak memiliki keinginan kuat untuk melakukannya di lain waktu.

Ketiga, orang yang menjadikan ping pong sebagai hobi. Orang-orang ini menikmati bermain ping pong dan melakukannya secara rutin. Ada rasa kangen ketika mereka berpisah dari bola ping pong dan bet dalam waktu yang lama.

Keempat, orang yang jalan hidupnya adalah ping pong. Bagi mereka, ping pong bukan sekedar permainan, olah raga, ataupun hobi, tapi merupakan bentuk komitmen yang membuahkan prestasi, ketenaran, dan kegemilangan. Ma Long dan Ma Lin, dua pemain top dunia dari China, termasuk kategori ini. Demikian pula dengan Zhuang Zedong, pemain ping pong terbaik sepanjang masa dari China yang menjadi salah satu tokoh sentral dalam Ping Pong Diplomacy (1971), peristiwa monumental yang menjadi simbol mencairnya ketegangan antara Amerika Serikat dan China. Tulisan ini adalah cerita tentang Zhuang beserta kawan-kawannya dan bagaimana berbagai peristiwa kebetulan seputar kronik monumental itu turut menentukan jalannya sejarah dan mengubah konstelasi geopolitik dunia.

Konteks Geopolitik Ping Pong Diplomacy

Perang Dingin adalah kata kuncinya. Saat itu dasawarsa 1960-an. Ketegangan antara Amerika Serikat sebagai kampium kapitalisme dan demokrasi liberal dengan Uni Soviet sebagai punggawa komunisme tengah mencapai titik puncak. Di bawah naungan payung realisme yang mendewakan balance of power, keduanya saling berebut pengaruh di berbagai belahan dunia. Di Asia, Amerika antara lain berteman dengan Jepang, Filipina, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam Selatan sebagai sekutu. Sementara Rusia antara lain berteman dengan Korea Utara dan Vietnam Utara.

Kebijakan utama AS, yang dikeluarkan oleh Presiden Harry S. Truman dan dikenal sebagai Doktrin Truman, adalah mengepung komunisme (containment policy) dalam rangka mengatasi pengaruh Soviet. Di beberapa negara, perebutan pengaruh liberalisme AS versus komunisme Soviet itu tampil dalam bentuk telanjang berupa perang internal. Korea, Vietnam, dan Kamboja. Ketiga negara ini terbelah karena urusan ideologi.

Perebutan pengaruh itu terus bereskalasi hingga terjadi perubahan drastis pada tahun 1969 saat Richard Nixon terpilih menjadi Presiden AS yang ke 37. Nixon yang dibantu oleh penasehatnya, Henry Kissingers, mengambil kebijakan détente (peredaan ketegangan) dengan Soviet yang kala itu dipimpin Lionid Brezhnev. Salah satu bentuknya adalah kesepakatan kedua belah pihak untuk membatasi kepemilikan hulu ledak nuklir. Meski demikian, bukan berarti konflik telah selesai. Perebutan pengaruh tetap terjadi meski dengan level dan pola yang berbeda. Dalam konteks seperti itulah Nixon melancarkan kebijakan mendekati China.

Sejak berkuasanya Partai Komunis China (PKC) di bawah pimpinan Mao Zedong tahun 1949, Amerika Serikat memutuskan hubungan diplomatik dengan China. Maklum, sejak awal Amerika mendukung Partai Kuomintang yang nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kaisek. Ketika mendapati ‘boneka’-nya dihancurkan oleh Mao dan dipaksa menyingkir ke Pulau Formosa (Taiwan), Amerika segera menutup pintu hatinya untuk China. Embargo perdagangan pun segera diterapkan atas China. Namun melihat perkembangan konstelasi ideologi dan politik yang terjadi, mau tak mau Amerika harus mengendurkan sikapnya terhadap China. Sebab bagaimanapun Soviet dianggap lebih berbahaya ketimbang China. Untuk membendung Soviet, Amerika perlu merangkul China. Dengan tindakannya itu, Amerika ingin memecah belah kekuatan geng komunis sekaligus memperkuat kekuatan barisannya sendiri. Dan momentum itupun datang dengan memanasnya hubungan Soviet-China akibat konflik perbatasan di akhir 1960-an, bertepatan dengan naiknya Nixon sebagai Presiden AS pada tahun 1969.

Hubungan China dengan Soviet sendiri memang tidak pernah mesra meski keduanya sama-sama negara komunis. Akar persoalannya ada pada keterbelahan ideologi (ideological split) dan strategi gerakan yang sebenarnya sudah berlangsung lama. Saat Mao memimpin PKC merebut kekuasaan dari tangan Partai Kuomintang yang berhaluan nasionalis dan di-back-up Amerika pada tahun 1940-an, Soviet yang kala itu dipimpin Stalin memberikan berbagai nasihat dan panduan. Namun arahan dari ‘saudara tua’ itu tidak dipatuhi oleh Mao. Misalnya, Soviet menyarankan agar Mao menggunakan kekuatan buruh untuk melancarkan revolusi dan merebut kekuasaan. Namun Mao yang melihat kondisi obyektif di China lain dengan di Rusia memilih jalan lain. Proses industrialisasi di China belum semasif di Rusia. Sementara mayoritas penduduk China bukanlah buruh industri, melainkan petani. Karena itu Mao memilih menggunakan petani sebagai kekuatan penggerak revolusi dengan strategi ‘Desa Mengepung Kota.’

Hal ini dipandang sebagai in-subordinasi alias pembangkangan oleh Soviet. Dalam masyarakat komunis, insubordinasi adalah dosa besar yang tidak bisa ditolerir. Karena itulah hubungan keduanya menjadi tidak akur. Sementara di sisi lain, China sendiri menganggap Soviet telah menghianati ajaran Marxisme-Leninisme dan berkolusi dengan imperialisme, terutama sejak Soviet dipimpin oleh Nikita Khrushchev. Sementara China masih trauma dengan pengalaman imperialisme, Soviet sudah tidak lagi begitu peduli terhadap imperialisme karena merasa posisinya sudah aman. Bahkan Soviet tak segan-segan melakukan hubungan dagang dengan negara-negara imperialis Barat. Hal itu tentu saja menyakiti hati China yang sesungguhnya berharap ‘saudara tua-’nya itu lebih memiliki empati terhadapnya.

Menjelang akhir 1960-an, keterbelahan ideologi itu semakin memanas dan hampir bertransformasi menjadi perang terbuka karena adanya konflik perbatasan. Sebuah pulau bernama Damansky Island (versi Soviet) atau Chenpao (versi China) di kawasan Ussuri River diperebutkan oleh kedua negara. Sengketa pulau itu sendiri sudah mulai mengemuka sejak 1963. Pada bulan Maret 1969, terjadi dua kali kontak senjata antara tentara China dengan tentara Soviet di pulau tersebut. Namun kedua belah pihak saling menahan diri karena takut terjadi perang nuklir mengingat dua negara ini sama-sama memiliki senjata nuklir.

Momentum itu pun tidak disia-siakan oleh Nixon yang menerapkan kebijakan “musuh dari musuh adalah teman.” Dia segera memutar haluan kebijakan Amerika terhadap China dengan berupaya merangkulnya menjadi teman. Namun sebegitu jauh Nixon masih belum menemukan cara yang tepat untuk melakukan pe-de-ka-te. Maklum, ibarat seorang gadis, China adalah sosok yang dingin, keras kepala, mau menang sendiri, dan tak kenal kompromi. Tak mudah untuk mendekatinya. Namun gadis itu pun luar biasa cantik dan menariknya sehingga banyak pemuda yang ingin mendekat. Karena itu, dengan cara apapun Nixon berjanji untuk mendapatkannya.

Jauh hari sebelum menjadi presiden, Nixon pernah mengemukakan keinginannya merangkul China dalam sebuah tulisan berjudul “Asia After Vietnam” di jurnal Foreign Affairs edisi Oktober 1967. Tulisan itu melambungkan reputasinya dan membantunya memenangkan pemilu.

“Taking the loving view we simply connot afford to leave China forever outside the family of nations,” tulisnya.

Ucapan senada, namun dengan sentimen yang lebih kuat, diulanginya dalam sebuah wawancara dengan majalah Time tak lama setelah secara resmi dia dinominasikan sebagai calon presiden dari Partai Republik. “If there is anything I want to do before I die, it is to go to China,” ujarnya kepada Time.

Dalam rangka mendekati China, Nixon tidak berani langsung main tembak dan merasa butuh comblang. Maka dipilihlah Presiden Pakistan Yahya Khan. Pada tanggal 25 Oktober 1970, Nixon meminta Khan mengirimkan pesan lisan ke China bahwa Amerika ingin menormalisasi hubungannya dengan China. Untuk keperluan itu, Amerika bermaksud mengirim salah seorang pejabat tingginya secara diam-diam ke China. Guna merayu China, Nixon bersedia memanggilnya dengan sebutan resmi yang selama ini tidak pernah digunakan AS di depan publik, yakni “People’s Republic of China.”

Rayuan Nixon tersebut manjur. Khan yang dikirim sebagai comblang mengabarkan bahwa China memberi sinyal positif. Sang pemimpin tertinggi, Mao Zedong, telah memberikan restunya. Sampai di sini, boleh dibilang pe-de-ka-te Nixon menunjukkan masa depan yang cerah. ‘Gadis berhati es’ itu tampaknya sudah mulai mencair. Namun demikian, kunjungan tidak bisa segera dilakukan karena beberapa pertimbangan teknis, seperti siapa yang akan berkunjung ke China, kapan kunjungan dilakukan, dan lain-lain. Maka Nixon pun dituntut bersabar menghadapi ‘si cantik’ yang rewel itu.

Si cantik itu sendiri rupanya juga sosok yang pemalu. Meski dalam hati mau, tapi toh dia tidak leluasa mengungkapkannya secara langsung dan terang-terangan kepada yang bersangkutan. Dia juga memerlukan comblang. Adalah Edgar Snow yang kali ini memainkan peran. Snow adalah seorang warga negara Amerika yang telah lama menjadi teman baik Mao Zedong. Dalam diskusinya dengan Snow pada 18 Desember, Mao mengatakan bahwa jika Nixon hendak berkunjung ke China, hendaknya dia melakukannya secara diam-diam dengan menggunakan pesawat. Bahkan kalau perlu dia menyamar sebagai turis. “I don’t think I’ll wrangle with him, though I’ll criticize him,” demikian komentar Mao tentang rencana pertemuannya dengan Nixon.

Meski dengan jalur yang berlika-liku dan masing-masing pihak sok jaim, tapi toh kesimpulannya tetap, yakni bahwa keduanya ingin saling mengenal lebih mendalam dan berhasrat untuk segera bertemu. Tinggal menunggu momentum saja. Momentum itu cepat atau lambat pasti akan datang.

Untung bagi keduanya, yang ditunggu-tunggu itu datang tak lama kemudian. Momentum itu muncul ketika digelar World Table Tennis Championship di Nagoya, Jepang, pada 28 Maret-7 April 1971. Sungguh kebetulan bagi keduanya karena pada mulanya mereka tidak pernah membayangkan bahwa momentum itu adalah hal yang “sepele” semacam itu.

Berbagai Peristiwa Kebetulan dan Peran ‘Orang-orang Kecil’

Saat tim ping pong dari China dan Amerika Serikat memutuskan ikut serta dalam turnamen tenis meja dunia tersebut, tak terbersit sedikitpun dalam benak mereka maksud untuk menjadi comblang bagi kedua negara. Pihak Jepang selaku penyelenggara juga tidak pernah berpikir demikian. Maklum, hubungan China dengan Jepang sendiri juga tidak pernah baik. China pernah mengalami pengalaman traumatik di paroh pertama abad 20 saat bala tentara Jepang menginvasi China dan memperlakukan rakyat negeri itu layaknya budak. Jepang baru hengkang dari negeri Sun Tzu itu setelah berhasil diusir oleh gerakan komunis di bawah komanda Mao Zedong. Namun sejak itu, hubungan keduanya terus diwarnai ketegangan dan konfrontasi.

Cobaan Silih Berganti

Pada awalnya, China masih ragu-ragu untuk turut andil dalam turnamen dua tahunan itu karena pertimbangan politis. Dalam dua turnamen sebelumnya (1967 dan 1969) China absen karena dilanda gelombang badai Revolusi Kebudayaan Proletariat Agung (Great Proletariat Cultural Revolution). Setelah Revolusi Kebudayaan mereda, China mulai berpikir untuk kembali turut serta dalam turnamen tersebut. Namun China belum yakin karena adanya pertimbangan-pertimbangan politis.

Adalah Koji Goto, Presiden Asosiasi Tenis Meja Jepang (Japan Tabble Tennis Association/JTTA) sekaligus Presiden Asosiasi Tenis Meja Asia (Asian Tabble Tennis Association, ATTA) yang berusaha keras membujuk China untuk ikut serta. Tujuannya semata-mata untuk membuat turnamen itu lebih menarik. Maklum, sejak kemunculannya pertama kali di turnamen tingkat dunia pada tahun 1953 yang dilanjutkan dengan kemenangannya pada tahun 1959, China menjadi salah satu aktor terpenting dalam turnamen tenis meja dunia. Meski sempat absen dua kali, namun kehadiran tim terbaik dunia itu tetap dinanti-nanti. Rasanya kurang afdhol jika turnamen di Jepang ini tidak diikuti China, seperti layaknya Piala Dunia tanpa kehadiran Brazil.

Untuk tujuan itu, Goto melakukan kunjungan pribadi ke China pada tanggal 24 Januari 1971 guna meyakinkan negara tetangga tersebut untuk ikut serta dalam turnamen. Sebagai buktu iktikad baiknya, Goto meyakinkan China bahwa Jepang akan menjunjung tinggi tiga prinsip yang ditetapkan China dalam hubungan China-Jepang sejak 1958, yakni:

  1. Jepang tidak akan menerapkan kebijakan anti-China Daratan;
  2. Jepang tidak akan turut serta dalam konspirasi menciptakan ‘dua China’;
  3. Jepang tidak akan menghalangi normalisasi hubungan China-Jepang.­ Goto yang merupakan Presiden ATTA itu juga berjanji jika China bersedia ikut serta, dia akan berupaya menanggalkan keanggotaan Taiwan dari ATTA. Seperti diketahui, Beijing selalu menganggap Taiwan merupakan bagian dari China. Lebih jauh, Goto bahkan menjadikan dirinya pribadi sebagai jaminan. Jika dia gagal menjalankan misinya mengeluarkan Taiwan dari keanggotaan, dia akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden ATTA.

Dengan sekian banyak janji dari Goto, toh China masih belum bisa diyakinkan. Pertimbangan politik membuat China ragu dan terlalu hati-hati. China menghendaki agar janji Goto tersebut dituangkan dalam proceeding yang dibuat antar-kedua asosiasi. Namun permintaan itu ditolak oleh Goto yang berpendapat bahwa alasan-alasan politis semacam itu tidak selayaknya dimuat dalam proceeding antar-dua asosiasi olah raga. Perundingan pun mandeg, dan kunjungan Goto tampaknya hanya akan sia-sia. Dia pulang dengan masygul karena misinya mengikutsertakan China dalam turnamen gagal.

Dalam momen kritis itu, Perdana Menteri China Zhou Enlai tampil mengubah situasi. Sosok yang dikenal sebagai tokoh moderat itu berpendapat bahwa China harus ikut serta dalam turnamen. Dia bahkan memarahi delegasi China yang bertemu dengan Goto.

“It was wrong of you to always put pressure on others without solving any practical problems,” tegurnya kepada para delegasi.

Dengan berani Zhou menambahkan. “Don’t be such leftist!

Karena campur tangannya ini, China bersedia menandatangani proceeding tanpa memasukkan aspek-aspek politik di dalamnya pada tanggal 1 Februari 1971. Meski harus melibatkan ‘orang besar’ seperti Zhou Enlai, namun peran ‘orang kecil’ seperti Goto jelas sangat menentukan dalam proses awal Ping Pong Diplomacy ini.

Lolos dari cobaan pertama, cobaan kedua untuk Ping Pong Diplomacy menyusul dengan terjadinya perubahan perkembangan politik internasional. Tanggal 8 Februari 1971, tentara Vietnam Selatan dengan dukungan Amerika Serikat melancarkan invasi militer atas Vietnam Utara yang berhaluan komunis. Sebagai bentuk solidaritas ideologis, China menyatakan dukungannya terhadap Vietnam Utara dan menegaskan bahwa pihaknya siap melakukan tindakan apapun untuk membela perlawanan rakyat Vietnam Utara terhadap Amerika Serikat. Pada saat yang sama, situasi politik domestik di Kamboja juga memanas. Konflik antara Norodom Sihanouk yang didikung China dan Lon Nol membuat negara ini terbelah. Tim tenis meja di bawah Sihanouk menolak ikut bertanding dengan tim di bawah Lon Nol. Tim Sihanouk lalu memboikot turnamen internasional tersebut. Sadar akan pengaruhnya yang kecil, Sihanouk yang tengah mengungsi di Beijing meminta dukungan kepada China untuk turut serta memboikot turnamen.

Zhou Enlai sebagai tokoh teratas yang mendukung keikutsertaan China dalam turnamen dibuat bingung dengan perkembangan politik tersebut. Dia tidak berani mengambil sikap. Akhirnya dia menyerahkan urusan itu kepada pemimpin tertinggi, yang dipertuan dari segala tuan di China, pemimpin besar revolusi, Mao Zedong. Sebelumnya Zhou sudah menyerahkan proceeding hasil perjanjian dengan tim Jepang kepada Ketua Mao. Namun sebegitu jauh tidak ada respon dari Sang Ketua. Karena tak berani mengamil risiko, Zhou memutuskan untuk melaporkan perkembangan situasi politik dan rencana keikutsertaan China dalam turnamen tenis dunia itu kepada Ketua Mao.

Sebelum melapor, Zhou lebih dulu mengumpulkan para bawahannya guna meminta masukan. Dia juga menanyakan pendapat para pemain dan pelatih tim tenis meja. Zhou bermaksud membawa aspirasi, atau lebih tepatnya mengatasnamakan, bawahan dalam mengajukan usulan kepada Ketua Mao. Hasilnya, meski ada sebagian yang setuju, namun mayoritas menolak keikutsertaan China dalam turnamen karena pertimbangan politik. Toh demikian, Zhou tetap bersikeras agar China ikut serta.

Pada dasarnya, Zhou memang sudah memiliki sikap sendiri. Tujuannya mengumpulkan bawahan hanyalah untuk ‘meminjam’ mereka ketika melapor kepada Mao. Dengan begitu jika terjadi sesuatu di luar dugaan, tanggung jawab tidak seluruhnya tertimpa ke pundaknya. Konon memang demikian karakter Zhou. Karena itu, ketika aspirasi anak buahnya tidak sesuai dengan yang dikehendakinya, dia tetap ngotot dengan kemauannya.

Dalam laporannya kepada Mao tanggal 14 Maret, Zhao meyakinkan Sang Ketua bahwa pertimbangan politik akan tetap menjadi agenda utama. Karena itu upaya meraih kemenangan dalam turnamen itu tidak akan mengalahkan pertimbangan politik. Lain dengan laporan pertama, laporan kedua ini mendapat respon cepat.

Sore tanggal 15 Maret, Sang Ketua memberikan sinyal positif. “Do so accordingly,” kata Mao. Namun Mao tetap mewanti-wanti.

“Our team should go. [The players] have to be prepared for not only hardship but also death. We should be prepared to lose a few people; of course it will be better if we don’t,” pesan Mao.

Dengan adanya restu dari Sang Ketua ini, maka absah sudah keputusan China untuk ikut dalam turnamen. Sehari sebelum berangkat, anggota tim mendapat briefing dari PM Zhou Enlai tentang perkembangan situasi politik internasional.

Akhirnya, pada tanggal 17 Maret atau 11 hari sebelum turnamen dimulai, tim China di bawah pimpinan ketua delegasi Zhao Zhenghong berangkat menuju Jepang. Selain berbagai keperluan lomba, keberangkatan para pemain dan pelatih tenis meja ini juga membawa bekal aturan-aturan yang harus mereka taati selama turnamen. Antara lain, mereka tidak boleh memulai pembicaraan atau berinisiatif menyapa jika bertemu dengan anggota tim Amerika Serikat. Mereka juga tidak boleh saling tukar bendera dan berjabat tangan jika bertanding dengan tim Amerika.

Kebetulan-kebetulan yang Berarti

Dengan berbagai aturan ketat yang membelenggu mereka, tim China tentu saja tidak leluasa dalam bergaul dengan tim-tim negara lain selama turnamen. Mengingat dalam negara komunis seperti China aturan bersifat doktrinal dan tak bisa diganggu gugat, tampaknya tipis harapan akan terjadinya komunikasi antara tim China dan tim Amerika. Jika demikian itu yang terjadi, maka bisa dipastikan Ping Pong Diplomacy tidak akan pernah terjadi. Namun rupanya sejarah memiliki logikanya sendiri. Peristiwa-peristiwa kebetulan yang terjadi selama turnamen mampu menembus segala batas keterikatan doktrinal dan menggulirkan roda sejarah menuju jalannya sendiri.

Kebetulan pertama terjadi pada saat upacara pembukaan pada tanggal 27 Maret. Tanpa sengaja tim China saling tukar sapa dengan tim Amerika. Begitu tahu dari penerjemah bahwa tim yang mereka sapa adalah tim Amerika, tim China segera menghentikan percakapan. Tak cukup sampai di situ, mereka segera mengirim laporan ke Beijing mengabarkan peristiwa tersebut.

Tiga hari kemudian, terjadilah peristiwa kebetulan kedua. Saat break pagi, sekretaris delegasi China Song Zhong tanpa sengaja duduk semeja dengan ketua delegasi Amerika yang juga Ketua Asosiasi Tenis Meja Amerika Serikat (US Tabble Tennis Association), Graham B Steenhoven. Bagi Steenhoven, tentu saja peristiwa itu tidak membuatnya rikuh. Bahkan dia mengajak ngobrol Song dan berceloteh bahwa 15 hari sebelumnya US Department of State telah menghapus larangan bagi warga Amerika tertentu yang ingin mengunjungi China.

Pertemuan tanpa sengaja itu rupanya memberi kesan tersendiri bagi Steenhoven. Saat bertemu lagi pada siang hari, dengan sopan dia berkata kepada Song. “Saya dengar China mengundang perwakilan Yugoslavia untuk berkunjung ke China selama seminggu setelah turnamen. Kemampuan tenis meja China sangat bagus. Kalau para pemain Amerika bisa berkunjung ke China, pasti mereka bisa belajar banyak dari para pemain China. Saya juga berharap pemain China bisa berkunjung ke Amerika,” kata Steenhoven. Dalam kesempatan itu Steenhoven juga menghadiahi Song uang setengah dolar bergambar Kennedy.

Kebetulan kedua ini barangkali akan terlewat begitu saja dan tidak membawa implikasi signifikan jika tidak ada kebetulan ketiga. Kebetulan ketiga itu adalah bahwa Song merupakan salah satu dari sedikit ‘intelektual’ China kala itu. Sebelum terjun ke dunia tenis meja, alumni Anti-Japanese Military and Political Academy ini pernah bekerja di markas besar tentara dan bertugas mengumpulkan dan menganalisis informasi militer. Dia tidak hanya menguasai tenis meja, tetapi juga tahu seluk-beluk politik dan sensitif menangkap ‘sinyal-sinyal diplomatik.’ Karena itu, begitu mendeteksi ‘sinyal’ dari delegasi Amerika, dia langsung mendiskusikannya dengan pemimpin delegasi yang lain setelah makan malam. Selain Song, Wakil Ketua Delegasi Wang Zhaoyun juga memiliki pengalaman diplomatik. Wang merupakan mantan diplomat yang pernah bekerja sebagai Sekretaris Satu di Kedubes China di Korea Utara dan berkarir lama di Kementerian Luar Negeri China. Setelah diskusi, akhirnya mereka melaporkan ‘sinyal’ itu ke Beijing. Namun tak ada respon pasti dari Pusat yang tampaknya masih menunggu perkembangan situasi di lapangan.

Perkembangan itu terjadi tanggal 2 April, saat hari break diisi dengan tur keliling Jepang dengan kapal. Pada momen tur itu, komunikasi antar anggota delegasi China dan Amerika makin intens. Salah seorang pemain Amerika bahkan menggoda pemain China. “Kami dengar kalian mengundang teman kami Inggris dan Kanada berkunjung ke China. Giliran kami kapan?” candanya. Kebetulan keempat berperan di sini. Para pemain Amerika bisa tahu bahwa China mengundang Inggris dan Kanada karena salah seorang pemain Kanada, Leah Neuberger, kebetulan selalu luntang-luntung bersama tim Amerika.

Perkembangan itu segera dilaporkan ke Beijing. Menerima ‘sinyal’ bertubi-tubi itu, Beijing pun mengirim respon. Namun respon itu negatif. “Katakan pada pemain Amerika bahwa sekarang belum waktunya mengundang mereka ke China. Barangkali di masa datang akan ada kesempatan,” demikian bunyi pesan dari Pusat tanggal 3 April.

Sampai di sini, tampaknya China tetap berhati dingin dan berkepala batu. China tak tergoyahkan oleh ‘godaan dan rayuan’ yang dilancarkan Amerika. Untunglah terjadi peristiwa kebetulan kelima yang bisa mencairkan kebekuan hati China. Tanggal 4 April siang, pemain Amerika Glenn Cowan salah masuk mobil. Bukannya naik mobil bersama rombongannya, dia malah masuk ke mobil yang mengangkut delegasi China. Betapa malunya dia saat menyadari tidak ada seorang pun dalam mobil itu yang menyapanya. Saat itulah Zhuang Zedong, pemain China terbaik sepanjang masa itu, berinisiatif memulai percakapan dengan Cowan. Saat ditegur oleh Zhao Zhenghong yang menjadi ketua delegasi, dengan santai Zhuang menimpali. “Santai saja. Kamu terlalu khawatir karena menjadi ketua delegasi. Sementara saya hanya pemain. Jadi tidak apa-apa,” ucapnya.

Ada baiknya saya ulas sedikit mengenai tokoh yang satu ini. Zhuang Zedong merupakan pemenang 3 kali berturut-turut turnamen tenis dunia di tahun 1961, 1963, dan 1965. Gaya permainan Zhuang memiliki keunikan tersendiri. Di antaranya adalah cara dia memegang bet yang seperti memegang pena. Meski saat itu cara memegang bet semacam itu sudah marak digunakan, namun lazimnya teknik itu memiliki kelemahan, yakni kurang kuat dalam menyerang menggunakan backhand. Hebatnya, kelemahan itu berhasil ditutupi oleh kepiawaian tangan emas Zhuang. Pada tahun 1973, pria kelahiran 1940 ini menajadi favorit istri Mao, Jiang Qing, yang merupakan salah satu aktor paling berpengaruh di China kala itu dan pemimpin dari Gang of Four. Gang of Four adalah kelompok ekstrem sayap kiri yang menjadi arsitek Revolusi Kebudayaan yang telah menelan banyak korban baik nyawa maupun materi rakyat China. Selain Jiang Qing sebagai pemimpin, anggotanya lainnya adalah Zhang Chungqiao, Yao Wenyuan, dan Wang hongwen. Setelah Mao meninggal tahun 1976, keempat orang ini dijebloskan ke penjara oleh kelompok yang sebelumnya menjadi penentang Revolusi Kebudayaan. Zhuang yang konon merupakan selingkuhan Jiang Qing juga ikut dipenjara. Zhuang inilah yang nantinya akan menjadi spotlight dalam ‘drama’ Ping Pong Diplomacy.

Setelah perjalanan yang hanya berlangsung sekitar 5 menit itu, peristiwa lain yang lebih menghebohkan dan berdampak lebih besar terjadi. Saat Zhuang dan Cowan turun dari mobil, sejumlah wartawan yang memang sensitif terhadap isu hubungan China-AS telah menanti. Dengan membawa banner bergambar Yellow Mountain (salah satu pegunungan di China), Cowan berfoto dengan Zhuang. Tentu saja momen itu tidak dilewatkan begitu saja oleh para wartawan yang segera memberitakannya. Ketika sehari kemudian Cowan memberi kaos kepada Zhuang, wartawan kembali mem-blow-up-nya. Namun sepertinya berita media massa tentang peristiwa tersebut tidak langsung sampai ke Beijing. Dalam laporan ke Pusat, tim China juga tidak menyinggung peristiwa pemberian kaos tersebut.

Dari Beijing kembali datang instruksi kepada para delegasinya. Bukan saja Beijing kembali menegaskan bahwa belum saatnya delegasi Amerika diundang, bahkan muncul pula larangan bagi cewek delegasi Kanada yang berkewarganegaraan Amerika menemani cowoknya mengunjungi China. Namun para delegasi China bertindak cerdik dengan tidak menyampaikan pesan menyakitkan itu ke delegasi Amerika yang memang belum secara resmi menyampaikan permintaan berkunjung. ‘Kecerdikan diplomatik’ ini menyisakan ruang bagi China untuk mengubah sikap sewaktu-waktu jika muncul perkembangan baru.

Dan perkembangan baru itu benar-benar muncul. Tanggal 6 April sore atau hanya sehari sebelum turnamen selesai, Ketua Mao yang sebelumnya sudah setuju untuk tidak mengundang delegasi Amerika tiba-tiba berubah pikiran ketika membaca berita perjumpaan Zhuang dengan Cowan di koran Reference Materials, sebuah harian yang hanya bisa diakses oleh para pemimpin puncak Partai Komnis China (PKC). Dengan mata berbinar, dia berkomentar. “Zhuang Zedong ini tidak hanya seorang pemain tenis meja yang handal, tetapi juga seorang diplomat. Dia memiliki sensitifitas politik yang baik,” ujarnya.

Malamnya, sekitar pukul 11 malam, Mao mengambil keputusan yang amat penting. Seperti biasa, Mao yang kala itu menginjak usia 78 selalu minum obat tidur setiap malam. Jauh hari sebelumnya dia sudah mewanti-wanti kepada perawat pribadinya, Wu Xujun, bahwa apapun ucapan yang dikeluarkannya setelah minum obat tidur tidak usah dianggap. Namun malam itu keluar sebuah ucapan yang luar biasa. Dengan suara tidak jelas karena sudah didera kantuk setelah minum obat tidur, Mao memberi perintah kepada Wu. “Telepon Wang Hairong (Kepala Divisi Protokol di Kementerian Luar Negeri) dan minta agar dia mengundang tim Amerika ke China,” katanya.

Mendapat perintah semacam itu, Wu pun terhenyak. Pasalnya, dia tahu bahwa sebelumnya Mao sudah setuju untuk tidak mengundang tim Amerika ke China. Sadar betapa pentingnya arti perintah itu, Wu kebingungan. Jika dilaksanakan, Wu terbentur perintah Mao sebelumnya bahwa apapun yang dikatakannya setelah minum obat tidur tidak perlu dihiraukan. Namun jika tidak dilaksanakan, risikonya terlalu besar. Hubungan dengan Amerika Serikat bukanlah perkara yang bisa dibuat main-main, apalagi oleh seorang perawat pribadi sepertinya. Terlebih tinggal 20 menit lagi tanggal 6 April akan segera berlalu, dan bisa jadi tim Amerika keburu pulang jika perintah Mao tidak segera diteruskan ke delegasi China. Pikir punya pikir, akhirnya Wu memutuskan untuk pura-pura tidak mengerti ucapan Mao. Jika Sang Ketua serius dengan ucapannya pasti dia akan mengulanginya, pikir Wu. Benar saja. Dengan mata merem-melek karena mengantuk, Mao yang melihat sang perawat belum melaksanakan perintahnya segera menegur. “Kok kamu masih di situ WU. Mengapa tidak kau laksanakan perintahku?” ujarnya.

Mendapat teguran itu, sadarlah Wu bahwa Mao memang serius dengan kata-katanya. Namun untuk memastikan, dia meminta penegasan dari Sang Ketua. “Anda telah minum obat tidur. Apakah perintah Anda serius?” tanyanya. “Tentu saja. Cepat! Cepat! Kalau tidak nanti tidak keburu lagi,” jawab Mao dengan tegas. Setelah mendapatkan penegasan, barulah Wu bergegas melaksanakan perintah tersebut.

Episode pil tidur Mao ini menunjukkan bagaimana ‘orang kecil,’ seorang perawat pribadi, lagi-lagi turut andil dalam pengambilan sebuah keputusan besar suatu negara. Seandainya Wu tidak cerdik menyikapi perintah Mao, misalnya dia mengabaikan begitu saja perintah Sang Ketua yang telah dipengaruhi obat tidur itu, hampir bisa dipastikan Ping Pong Diplomacy tidak akan terjadi, dan barangkali sejarah China dan sejarah dunia akan menjadi lain dari yang sekarang kita saksikan. Episode itu bisa dibilang sebagai kebetulan kelima.

Berbagai kebetulan yang turut menentukan terjadinya Ping Pong Diplomacy tidak sampai di sini saja. Hari telah pagi ketika pimpinan delegasi China, Zhao Zhenghong, menerima instruksi dari Beijing. Saat itu dia sedang sarapan. Belum selesai makan, dia diberi tahu bahwa ada pesan penting dari Pusat. Isinya adalah perintah agar Zhao mengundang delegasi Amerika ke China. “Mengingat tim Amerika telah berkali-kali menyampaikan keinginannya untuk mengunjungi China dan mereka telah menunjukkan rasa persahabatan yang hangat, diputuskan untuk mengundang mereka, termasuk para pemimpi timnya, ke negara kita. Visa bisa diperoleh di Hong Kong. Jika dana mereka tidak cukup, kita bisa memberi subsidi,” demikian bunyi perintah tersebut.

Pontang-panting Zhao dibuatnya. Maklum, waktu sangat mepet. Zhao tidak yakin apakah delegasi Amerika masih di hotel atau sudah check out. Dia menyuruh Song Zhong untuk segera pergi ke hotel tempat delegasi Amerika menginap dan menyampaikan pesan tersebut. Waktu telah menunjukkan pukul 10.30 ketika Song tiba di hotel. Secara kebetulan, dia bertemu dengan wakil ketua delegasi Amerika, Rufford Horrison, yang baru saja keluar hotel dan menunggu taxi. Song pun menyampaikan pesan dari Beijing ke Horrison. Hampir saja Horrison tak mempercayai pendengarannya menerima pesan yang menakjubkan itu. Sebelumnya delegasi Amerika telah berencana meninggalkan Jepang esok harinya. Sungguh tak tersangka hanya sehari sebelum rencana kepulangan datang kabar menggemberikan dari Beijing. Dia pun berjanji mendiskusikannya dengan pimpinan dan anggota tim yang lain dan akan memberi kabar secepatnya.

Setelah diskusi dengan timnya, Harrison melaporkan undangan China tersebut ke Kedubes AS di Jepang. Saat keputusan penting harus diambil, Dubes AS di Jepang Armin Meyer kebetulan tidak ada ditempat. Untunglah tampil William Cunningham, Kepala Divisi Eksternal Bidang Politik yang kebetulan juga merupakan satu-satunya ahli China saat itu, yang berani mengambil keputusan dan menyatakan siap bertanggung jawab. Dia mengatakan kepada Harrison bahwa sebagai warga negara biasa, anggota delegasi Amerika diberi kebebasan untuk menerima atau menolak undangan China. Seandainya saat itu Meyer ada di tempat, belum tentu keputusan yang diambil akan seperti Cunningham. Seandainya yang mengambil keputusan bukan Cunningham, barangkali keputusannya adalah menunggu instruksi Meyer, dan momen itu bisa jadi lewat begitu saja mengingat sangat terbatasnya waktu yang ada. Seandainya Cunningham bukan seorang ahli China, belum tentu dia berani mengambil risiko membuat keputusan tepat.

Belakangan, terbukti keputusan yang diambil Cunningham sangatlah tepat. Begitu Meyer pulang pada sore hari, segera dia mengirim kabar ke Kementerian Luar Negeri AS guna mengabarkan keputusan yang telah diambil Cunningham. Kabar itu lantas diteruskan ke Gedung Putih. Demi menerima kabar mengejutkan tersebut, Presiden Richard Nixon tercengang sekaligus senang. Dia sama sekali tidak menyangka ‘si gadis berhati dingin’ itu menggunakan ping pong sebagai sarana pendekatan. Tentu saja dia segera menyambut bola yang telah dilempar China tersebut.

Gayung telah bersambut. Setelah berbagai lika-liku dilalui, akhirnya berangkatlah rombongan delegasi ping pong Amerika beserta beberapa wartawan ke China pada tanggal 10 April. Selama seminggu di sana, mereka melakukan berbagai aktivitas, mulai dari demonstrasi ping pong tim Amerika versus tim China, mengunjungi Tembok Raksasa dan Istana Musim Panas di luar Beijing, bertemu dengan mahasiswa dan pekerja China, serta menghadiri berbagai event sosial di kota-kota besar. Mereka bahkan diterima oleh PM Zhou Enlai di Great Hall.

Kehangatan sambutan warga China mendatangkan kesan tersendiri bagi rombongan tim Amerika, sebuah kesan yang menjungkirbalikkan persepsi yang selama ini mereka miliki tentang orang-orang China. Glenn Cowan, misalnya, dengan antusias mengatakan, “Fantastis! Benar-benar fantastis! Orang-orang China ternyata sama saja dengan kita. Mereka nyata, mereka genuine, mereka memiliki perasaaan.”

People-to-people diplomacy yang kelihatannya sepele itu ternyata mendapatperhatian besar dari publik. Media domestik dan internasional melaporkan secara besar-besaran peristiwa tersebut. Ketika mengambil keputusan itu, Nixon dan penasehatnya, Henry Kissingers, ibarat bermain dadu. Mereka tidak tahu akan seperti apa reaksi publik Amerika. Karena itu, begitu tahu peristiwa tersebut diliput media-media AS, Kissinger sempat merasa gugup. Maklum, di Amerika pengaruh media massa begitu besarnya dalam menekan pemerintah.

Untunglah reaksi media di Amerika sangat positif. The New York Times misalnya, memilih judul headline yang afirmatif-optimis, antara lain seperti ‘Chinese Greet Americans with Smiles and Curiosity’ (12 April) dan ‘Red China Hints Softening of Position on Tie to US’ (18 April). Washington Post pun memakai judul-judul yang senada, semisal ‘US Table Tennis Team Greeted Wamrly in Peking’ (11 April) dan ‘China Embargo Eased; Chou Sees Better Ties’ (15 April). Majalah Time bahkan melaporkan peristiwa itu dengan nada impresif. “The ping heard round the world,” tulis media tersebut. Reaksi positif dari media ini juga turut memutar bola salju efek Ping Pong Diplomacy sehingga efeknya semakin terasa.

Dampak Ping Pong Diplomacy

Dengan adanya Ping Pong Diplomacy ini, Amerika Serikat yang tadinya masih kebingungan bagaimana caranya mendekati China seolah-olah menemukan pintu. Di hari yang sama setelah Zhuo bertemu dengan delegasi Amerika di Great Hall tanggal 14 April, Washington segera mengumumkan 5 langkah baru dalam menjalin hubungan dengan China, termasuk salah satunya yang paling penting adalah pencabutan embargo yang telah berlangsung selama 20 tahun. Dua hari kemudian, Nixon mengirim pesan ke China disertai ‘sinyal’ bahwa dia bermaksud mengunjungi negeri Tirai Bambu tersebut. Beijing tidak segera mengafirmasi sinyal Nixon, namun memberi sinyal positif dengan menerima undangan tim ping pong Amerika kepada tim ping pong China untuk berkunjung ke negeri Paman Sam.

Tanggal 17 Mei, Nixon secara resmi menyatakan maksudnya untuk berkunjung ke China. Namun dia mengusulkan agar lebih dulu diadakan pertemuan rahasia antara Kissingers dengan Zhou Enlai guna menyiapkan kunjungan tersebut. Kali ini Beijing membuka hatinya. Maka jadilah Kissingers secara diam-diam berkunjung ke China dan bertemu dengan Zhou Enlai pada 9-11 Juli. Hanya 4 hari kemudian, yakni tanggal 15 Juli, Nixon secara resmi mengumumkan rencana kunjungannya ke China yang akan dilakukan sebelum Mei 1972.

Nixon Berkunjung ke China

Setelah melewati berbagai lika-liku di atas, akhirnya kunjungan Nixon dilakukan pada tanggal 17-28 Februari 1972. Maka terjadilah pertemuan bersejarah antara dua pemimpin tertinggi dua negara besar, Richard Nixon dan Mao Zedong, pada tanggal 21 Februari. Dua hati yang tadinya berseteru itu telah bersatu. Dalam pertemuan itu, Nixon menyatakan bahwa Amerika dan China memiliki kepentingan bersama untuk menormalisasi hubungan kedua negara. Hal itu diperlukan guna mengurangi peluang terjadinya konflik dan menjaga perdamaian. Usai kunjungan, masing-masing pihak saling memberi cindera mata. Uniknya, kedua cindera mata yang ditukarkan sama-sama berwujud binatang. AS memberi China sepasang lembu kesturi, sedangkan China menghadiahi AS sepasang panda raksasa. Sepasang panda itu tiba di AS 1972 dan disimpan di Kebun Binatang Nasional, Washington DC, sebagai simbol hubungan AS-China. Sejak itulah hubungan China dan Amerika Serikat semakin berkembang.

Namun begitu, bukan berarti hubungan keduanya lantas menjadi mesra sepanjang masa. Fluktuasi tetap saja ada. Hal ini lantaran perbedaan karakter keduanya yang terlalu mencolok. Di satu sisi, Amerika adalah negara maju yang menjunjung tinggi demokrasi, HAM, dan liberalisme, sementara di sisi lain China merupakan negara berkembang yang mengantus sistem komunis dan sensitive terhadap demokrasi dan HAM. Bahkan hingga sekarang, hubungan keduanya masih terus mengalami transformasi. Namun apapun juga, cairnya hubungan keduanya sejak 1970-an memberikan nuansa lain dalam konstelasi geopolitik global. Semua itu adalah berkat—salah satunya—Ping Pong Diplomacy. Jadi, siapa bilang multi-track diplomacy adalah barang baru? Sebagai bentuk apresiasi, marilah kita bermain ping pong…

Sumber:

Biography of Richard Milhous Nixon, http://nixon.archives.gov/thelife/nixonbio.pdf.

Ping Pong Diplomacy, http://www.china.org.cn/english/features/olympics/100660.htm.

Ping-PongDiplomacy (April 6 – 17, 1971), http://www.pbs.org/wgbh/amex/china/peopleevents/pande07.html.

Ping Pong Diplomacy: Nixon’s Trip to China, http://www.presidentialtimeline.org/html/exhibits.php?id=7.

Ping-Pong Diplomacy Spearheaded U.S.-Chinese Relations, http://www.america.gov/st/peacesec-english/2006/April/20080522121040WRybakcuH0.8632013.html.

Sino-Japanese Relations, http://www.c-s-p.org/Flyers/9781847186201-sample.pdf.

Sino-Japanese Relations: Issues for US Policy, http://www.fas.org/sgp/crs/row/R40093.pdf.

Sino-US Relations in Transformation, http://irchina.org/en/xueren/china/view.asp?id=700.

The Development of Sino-Russia Relations, http://nccur.lib.nccu.edu.tw/bitstream/140.119/34904/8/501108.pdf.

The Path Toward Sino-American Rapprochement, 1969–1972, http://www.ghi-dc.org/files/publications/bu_supp/supp1/supp-01_026.pdf.

The Sino-Soviet Border Conflict, 1969: US Reactions and Diplomatic Maneuvers, http://www.gwu.edu/~nsarchiv/NSAEBB/NSAEBB49/.

The Sino-Soviet Split, http://www.marxists.org/subject/stalinism/origins-future/ch3-1.htm.

Thomas W Robinson, The Sino-Soviet Border Dispute: Background, Development, and the March 1969 Clashes, http://www.jstor.org/pss/1957173.

Zhaohui Hong dan Yi Sun, The Butterfly Effect and the Making of ‘Ping-Pong Diplomacy,’ Journal of Contemporary China (2000), 9(25), 429–448, http://www.cbtm.org.br/scripts/arquivos/3862998.pdf.

Zhuang Zedong, http://www.worldlingo.com/ma/enwiki/en/Zhuang_Zedong

 
1 Comment

Posted by on 17 August 2010 in Diplomatologi

 

One response to “Ping Pong Diplomacy

  1. abenk

    3 December 2010 at 14:31

    mantap postingannya gan….
    salam kenal ya……..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: