RSS

Indonesia Raya di Ujung Pena

18 Aug

Oleh: Martogi Harahap*

MUDAH SAJA mencari tahu apakah masyarakat Indonesia masih memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi terhadap negara ini. Salah satu caranya cukup dengan menonton kejuaran bulu tangkis atau pertandingan sepak bola antara Indonesia dengan negara lain.

Beberapa tahun lalu, saya bersama dengan teman berkesempatan untuk menonton Piala Asia yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno. Dan ini bukan pertama kalinya saya menonton pertandingan sepak bola di stadion berkapasitas seratus ribu orang tersebut. Namun, kesempatan itu adalah kesempatan saya untuk pertama kalinya mendengarkan hiruk-pikuk nama Indonesia dipekikkan oleh ratusan ribu orang secara serentak.

Suasana saat itu masih terbayang sampai sekarang. Saya bisa merasakan adrenalin yang sangat kuat mengalir dari jantung mengisi setiap sel-sel yang ada di tubuh saya. Dengan suara gemetar dan tinju terarah ke atas, seluruh stadion bergemuruh meneriakkan, “GoL..!”, saat Firman Utina mencetak skor ke gawang lawan.
Saya bayangkan semangat yang membakar stadion itu juga yang terjadi sekitar 65 tahun yang lalu. Saat itu Bung Karno melalui pengeras suara membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,”Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia…”, yang disusul pekik sambutan rakyat Indonesia, “Merdeka, Merdeka, Merdeka !” Kemerdekaan yang diucap lantang Bung Karno itu memacu adrenalin bangsa ini ke dalam setiap sendi perjalanan sejarah kelahiran NKRI hingga saat ini.
Namun, nasionalisme tentu bukan sekedar itu. Seorang kawan bilang, nasionalisme bukan sebatas pekikan suara dalam sebuah peristiwa. Nasionalisme adalah rangkaian daya, upaya dan karya yang dimiliki dan dilakukan oleh setiap warga negara ini dalam hubungannya dengan bangsa dan negara.

Bisa jadi bagi sebagian di antara kita yang tinggal di ibukota, dimana roda kehidupan berputar begitu cepat, nasionalisme dalam arti yang sebenarnya terasa sulit ditemukan. “Nasionalisme” terkadang hanya ditemui di poster, slogan atau pamlet yang berserakan di sepanjang jalan utama di ibukota. “Aku Cinta Indonesia”, “Cintailah produk-produk Indonesia”, “Majulah Negeriku” dan banyak lainnya.
Jika di ibukota negara saja kondisi itu terjadi, bagaimana dengan di Pulau Sabang, atau di salah satu desa di pedalaman Papua. Apakah kita bisa membayangkan bagaimana “nasionalisme” terdefinisikan di sana?

Bisa saja di beberapa daerah dengan jaringan listrik, ‘nasionalisme’ masih terjaga ketika warga menyaksikan pertandingan bulu tangkis antara Taufik Hidayat dan Lin Dan. Namun apa jadinya ’nasionalisme’ di sebuah daerah terpencil yang tanpa listrik dan tanpa air bersih? Bisa jadi yang terpekik di sanubari terdalam mereka, “[belum] Merdeka!!!” sekali lagi “[belum] Merdeka!!!”.

Walaupun begitu, seperti Anda, saya yakin kita bersama sedang berjalan menuju pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik sebagaimana pesan para founding fathers republik ini melalui UUD 1945.  Sambil menulis kalimat terakhir ini, lamat-lamat lagu Indonesia Raya terdengar di televisi,
“Bangunlah jiwa-nya, bangunlah badan-nya, Untuk Indonesia Raya”
Indonesia Raya Merdeka, Merdeka tanahku negeri ku yang kucinta
Indonesia Raya merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya…

Selamat HUT RI ke-65!

—————

*) penulis adalah alumnus Hubungan Internasional Universitas Indonesia

 
Leave a comment

Posted by on 18 August 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: