RSS

Berharap Damai Negeri Serumpun

31 Aug

Oleh: Ahmad Almaududi Amri*

KETEGANGAN HUBUNGAN Indonesia – Malaysia terus diwarnai pasang surut. Penangkapan 3 petugas KKP Indonesia dan 7 nelayan Malaysia yang dianggap telah melakukan tindakan melanggar hukum memperpanjang catatan kelam kisruh kedua negara. Belum lagi berita miring lain yang dihembuskan beberapa media massa mengenai barter petugas KKP dengan nelayan malaysia yang tidak jelas keabsahannya. Duduk perkara tak jelas arahnya di tengah perhatian warga yang cermat mengikuti perkembangan kasusnya. Kesenjangan pemahaman terhadap kasus tersebut di benak publik Indonesia dan Malaysia pun makin menganga.

Ketegangan mengemuka dengan berbagai insiden yang sungguh tak elok dipandang mata. Mulai dari pembakaran bendera Malaysia, unjuk rasa dari berbagai elemen masyarakat di penjuru negeri, hinggá penyerangan terhadap kedutaan Malaysia di Indonesia. Bak gayung bersambut, pernyataan pers Malaysia pun memanas sebagai reaksi atas tindakan masyarakat Indonesia.

Muncul pertanyaan terkait persoalan yang tak kunjung mendingin tersebut. Terus mempertahankan status persoalan pada titik panasnya, perang untuk menjaga harga diri bangsa, atau penyelesaian persoalan sesuai ketentuan yang ada?

Menlu RI Dr. Marty Natalegawa membantah anggapan telah terjadinya penukaran nelayan dengan para petugas KKP. Menlu pun menyatakan bahwa pemerintah RI telah mengirimkan nota protes kepada pemerintah Malaysia. Namun sebaliknya, pemerintah Malaysia justru menyikapinya dengan mengirimkan nota protes kembali kepada pemerintah RI. Pokok permasalahan yang akhirnya mencuat adalah belum adanya batas laut yang diterima kedua negara. Kedua negara akhirnya sepakat untuk berunding pada 6 september 2010 melalui joint ministrial commision.

Tidak ada yang bisa diperoleh dari hubungan yang buruk. Karena itu, rakyat Indonesia harus menyadari pentingnya kerukunan hidup bertetangga. Malaysia sebagai negara tetangga harus dirangkul dan dijadikan teman. Apalagi Malaysia memiliki banyak kemiripan budaya mulai dari bahasa, adat dan keyakinan. Pantas rasanya jika Indonesia dan Malaysia bersaudara, bukan lawan.

Hubungan nyata kedua negara terlihat jelas dari banyaknya tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia. Indonesia pun memperoleh banyak keuntungan dari sektor tersebut. Mulai dari devisa, remittance dan pendapatan asli daerah. Selain itu masih banyak dampak turunan lainnya. Malaysia sendiri sangat bergantung pada tenaga kerja Indonesia akibat dari minimnya jumlah penduduk, kurangnya jumlah skilled labour dan tingginya taraf kehidupan.

Tidak hanya mempengaruhi hubungan bilateral kedua negara, persoalan Indonesia-Malaysia bukan tidak mungkin akan berpengaruh terhadap kestabilan regional. Dalam konteks ASEAN, konflik Indonesia-Malaysia bisa menghambat proses pencapaian tujuan ASEAN.

Dalam lingkup global, konflik Indonesia-Malaysia bisa mencoreng citra baik kedua negara sebagai negara dengan nilai budaya kesopanan dan keramahan yang kental. Perselisihan tersebut jelas bertentangan dengan cita-cita pendirian bangsa yang termaktub dalam UUD 45, “…dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Semangat tersebut terkandung dalam slogan thousand friends zero enemy yang semarak didengungkan Menlu saat ini. Lantas, elokkah jika Indonesia terus mempertahankan perselisihannya dengan Malaysia? Setiap persoalan pasti ada penyelesaian. Konflik berkepanjangan bukanlah pilihan.

*) penulis adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

 
5 Comments

Posted by on 31 August 2010 in Uncategorized

 

5 responses to “Berharap Damai Negeri Serumpun

  1. Fitry Amri

    3 September 2010 at 00:38

    Assalamu’alaikum my bro..

    yeah,, cool, finally I found u here,,
    what a good one,,

    yep, I guess kita sebagai masyarakat yg beriman dan bertakwa, seharusnya bersatu dan saling membantu satu sama lain,, sesama muslim bersaudara,, apalagi banyak dari warga negara RI yg belajar dan bekerja di Malaysia, begitu pula sebaliknya,, semua orng yg berada di negara orng lain akan bertanya2 tentang ini,, bukan hanya diri mereka sendiri, akan tetapi keluargapun cemas akan berita heboh ini. Media masa dan juga liputan TV yg semakin memanas, mengakibatkan kemarahan yg meningkat. Oleh karena itu, sebaiknya berdamai sajalah malaysia-indonesia ibarat upin dan unyil baikan,, hehe.

     
  2. alfan

    5 September 2010 at 09:06

    nice article

    sayangnya di malay informasi masih dikontrol sama pemerintah jadi masyarakat sana gak tau kalo sikap kebanyakan masyarakatnya itu jadi dampak negatif buat malaysia.

    profil tki sukses juga jarang di perlihatkan baik di indo atau malay, biar lebih fair seharusnya media ga cuman ngomporin aja.

    dan yang terakhir daripada buat nulis artikel latiah pes aja dud, malu ah setiap berperang sama gw ko lo jarang sekali menang yaaaa :p

     
  3. irma

    23 February 2011 at 16:38

    wahh ..
    mas dudi skarang udah jdi diplomat y ..
    hweheheh ..
    udah nyangka sih ..

     
  4. devy pardede

    3 August 2011 at 22:19

    artikelnya bagus banget 🙂
    maaf sebelumnya pasti kakak ga tau ya siapa saya, saya devy yang beberapa waktu lalu magang di kemlu.

     
  5. Riana Alkurdi

    30 September 2011 at 05:49

    sedikit terlambat mengomentari mungkin… hmmm 😀

    akar permasalahan kalo dipahami sebenernya adalah mengenai kebudayaan,soal budaya dari rumpun ras yang sama (melayu), sehingga membuat negara tetangga “merasa memiliki”, pencarian “identitas diri” dari negara tetangga yang seolah seperti belum memiliki “pegangan/pedoman” untuk menunjang keberlangsungan “keeksisan” negara tersebut.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: