RSS

Napak Tilas Sejarah Konferensi Asia Afrika di Bandung (Bag-1)

31 Aug

Oleh: Shohib Masykur

HARI MASIH PAGI ketika kami berangkat dari Jakarta menuju Bandung, 28 Agustus 2010. Saya beserta rombongan—Ismail Fahmi, Stania Puspawardhani, Regia “Egi” Mutiara, Antonius “Peye” Prawira Yudianto, dan Dubes Wisber Loeis—meluncur ke Kota Kembang untuk keperluan syuting pembuatan film dokumenter tentang politik luar negeri Indonesia. Matahari pagi Jakarta yang hangat mengantar kepergian kami menuju kota di mana Konferensi Asia Afrika (KAA) digelar 55 tahun silam. Tempat tujuan kami adalah Museum KAA yang menyimpan memori dan dokumentasi peristiwa bersejarah tersebut.

Dua setengah jam perjalanan membawa kami tiba ke tempat yang kami tuju sekitar pukul 10.00 WIB. Museum KAA terletak di Jl Asia Afrika, beririsan dengan Jl Braga yang masyhur. Lokasinya yang berada persis di sudut perempatan membuat gedung tersebut tidak terlalu mencolok, ditimpa oleh kesibukan kendaraan yang berlalu-lalang di sekitarnya dengan riuh. Di depan dan samping kanan museum tampak berderet tiang bendera yang di ujungnya bertengger Sang Saka Merah Putih. Kami disambut oleh seorang satpam yang lantas mengantarkan kami menemui Pak Asep, petugas penjaga museum. Lewat Pak Asep inilah kami mengurus perizinan untuk syuting di lokasi museum.

Secara garis besar, museum KAA terdiri dari dua bangunan pokok, yakni Gedung Merdeka yang menjadi tempat sidang utama dan gedung museum yang menyimpan berbagai memorabilia peninggalan konferensi. Namun kedua bagian gedung ini berhimpit satu sama lain. Gedung Merdeka menjadi tanggung jawab Pemrov Jawa Barat untuk pengelolaannya, sementara gedung museum menjadi kewenangan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Gedung Merdeka merupakan sebuah aula yang luas. Saya tidak tahu persis berapa ukurannya, mungkin sekitar 50×40 meter. Tiga pintu depannya terbuat dari kayu berukuran sekitar 3×4 meter. Di depannya terdapat beranda selebar kurang lebih 5 meter. Akses masuk dari jalan ke beranda adalah tangga pendek yang ditutup dengan gerbang besi. Tangga ini terletak sangat dekat dengan Jalan Asia Afrika, hanya dipisahkan oleh trotoar selebar kurang lebih 2 meter. Pintu dan gerbang depan ini hampir selalu tertutup saban harinya. Pengunjung yang hendak masuk harus melewati pintu samping yang menghadap ke Jalan Braga.

Menurut cerita Pak Agus, petugas penjaga Gedung Merdeka, gedung ini didirikan pada tahun 1895 oleh dua perhimpunan masyarakat Belanda di Bandung. Pada mulanya gedung ini digunakan untuk menggelar pesta dan hiburan. Saat itu orang-orang Belanda yang memiliki kantong tebal kebingungan karena tidak punya tempat hiburan. Akhirnya dibangunlah gedung tersebut. Ketika Jepang mengambil alih kekuasaan pada tahun 1942, orang-orang Belanda diusir, dan gedung itu lalu digunakan oleh Jepang sebagai markas tentara. Setelah kemerdekaan Republik diproklamasikan tahun 1945, gedung itu lantas diambil alih oleh pemerintah Indonesia.

Kecuali beberapa deret meja di depan yang tidak lagi terpasang dan kursi-kursi yang tak lagi asli, kondisi di dalam ruang sidang utama ini tak jauh beda dengan 55 tahun yang lalu. Tata letak, bentuk atap, lantai, bentuk podium, dan susunan bendera persis sama. “Kondisinya masih sama. Kalau kursinya mungkin sudah diganti karena dulu masih pakai kursi rotan,” tutur Pak Wisber seraya menerawang masa lalunya yang pernah beliau lewatkan di tempat ini. Pada 55 tahun silam, Pak Wisber selaku mahasiswa Akademi Dinas Luar Negeri (ADLN) telah dilibatkan sebagai panitia teknis yang bertugas antar jemput para delegasi dari luar negeri. Secara samar ingatannya masih merekam bagaimana situasi saat itu ketika konferensi berjalan.

Museum KAA sempat terlantar sekian lama sebelum akhirnya ditangani secara lebih serius oleh pemerintah mulai tahun 1980. Menurut Pak Agus, menjelang peringatan 50 tahun KAA pada 2005 lalu, gedung sempat dipugar tanpa mengubah bentuk aslinya. Lantai di bagian dalam ruangan yang terbuat dari keramik Prancis masih dipertahankan keasilannya. Tapi lantai di beranda depan telah diganti dengan produk yang lebih baru.

Setiap hari museum selalu ramai dikunjungi orang, rata-rata 500 pengunjung. Kebanyakan datang dari luar kota seperti Jakarta dan Yogyakarta. Selain itu ada pula pengunjung dari luar negeri. “Kalau yang dari luar negeri kebanyakan dari China. Mereka ke sini untuk mengenang Perdana Menteri Zhou En Lai yang sangat dihormati di China,” kata Pak Agus.

Zhou Enlai memang tokoh yang berperan penting dalam sejarah China. Bersama Mao Zedong dan Deng Xiaping, Zhou memimpin revolusi komunis dan merebut kekuasaan dari tangan Partai Kuomintang tahun 1949. Zhou lah yang menjadi delegasi China dalam KAA 1955. Saat kami mengunjungi museum memang tamak beberapa orang China yang tengah berkunjung.

Tak jauh dari museum, sekitar 30 meter, berdiri Hotel Savoy Homann yang merupakan tempat menginap para delegasi utama. Deretan bendera tampak terpajang di depan hotel. Sebuah tugu bertuliskan dasa sila bandung berdiri tepat di seberang pintu, terpisah oleh halaman hotel. Menurut Pak Wisber, hotel itu tidak berubah dari dulu sampai sekarang. “Dulu juga sudah seperti ini,” tuturnya.

Sekitar 100 meter dari Hotel Savoy terdapat Hotel Preanger yang merupakan tempat menginap para staf delegasi. Kalau Savoy masih seperti dulu, Preanger ini sudah banyak berubah. “Kalau Preanger sudah ndak seperti dulu, sudah berubah,” kata Pak Wisber.

Prosesi Syuting

Kami memulai pengambilan gambar dengan mewawancarai Pak Wisber di sudut kanan belakang ruang sidang utama. Saat hendak mulai wawancara, kami sempat dibuat bingung akibat persiapan yang sedikit kurang matang. Earphone untuk check sound kamera lupa dibawa. Rol kabel untuk stop kontak juga tidak ada, padahal posisi stop kontak agak jauh dari lokasi wawancara sehingga kabel lampu tidak bisa menjangkau. Untunglah kami sangat terbantu oleh petugas museum, Pak Asep dan Pak Agus. Dengan baik hati mereka menyediakan berbagai peralatan yang kami butuhkan.

Wawancara berlangsung selama kurang lebih setengah jam. Dengan singkat namun padat Pak Wisber bercerita tentang dasar politik luar negeri bebas aktif, sejarah kemunculannya, implementasinya di lapangan, hingga kontekstualisasinya di zaman sekarang. Dari mulut beliau juga mengalir cerita tentang bagaimana prinsip bebas aktif ini menghadapi tantangan di masa lampau. Mengalir pula cerita tentang kiprah Indonesia di dunia internasional dalam KAA dan Gerakan Non-Blok.

Setelah wawancara usai, syuting dilanjutkan dengan pengambilan gambar berbagai adegan Pak Wisber di sekitar dan di dalam gedung (untuk kepentingan film, kami terpaksa tidak menjelaskan secara rinci adegan yang dimaksud). Kameramen kami, Fahmi dan Peye, mengambil gambar berbagai adegan layaknya seorang profesional. Fahmi bahkan harus berdiri di seberang jalan di bawah teriknya matahari Bandung untuk mengambil angel yang dirasa paling bagus. Sementara Stania sibuk mendokumentasikan prosesi itu dengan kamera kesayangannya. Adapan saya dan Egi hanya menonton teman-teman kami beraksi seraya sesekali memberikan bantuan yang diperlukan.

Ruang Museum

Setelah prosesi di Gedung Merdeka usai, kami mengunjungi ruang museum. Di ruangan yang tampak tertata apik itu tersimpan berbagai memorabilia masa lalu peninggalan konferensi. Ada patung Bung Karno yang tengah berpidato di podium, sementara di panggung belakangnya duduk Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo beserta beberapa pemimpin negara lain seperti Jawaharlal Nehru, Sir John Kotelawala, dan lain-lain. Ada mesin ketik dan kamera kuno yang digunakan untuk mendokumentasikan jalannya sidang. Ada buku-buku yang ditulis orang luar tentang KAA. Ada foto-foto para pemimpin negara peserta konferensi. Dan, tak lupa, ada deretan kliping berita di media massa tentang KAA yang diperbesar dan dipasang di sepanjang dinding ruangan.

Salah satu kliping yang menarik perhatian saya adalah tulisan di New York Times berujudul “The World Goes to Bandung.” Membaca judul itu, ingatan saya seolah diajak bertamasya ke masa lampau, suatu masa di mana nama Indonesia begitu berkibar dan menjadi sorotan di dunia internasional karena kiprahnya memoblisir negara-negara Asia dan Afrika yang sama-sama punya pengalaman berjuang merebut kemerdekaan. Saya membayangkan betapa gagahnya Indonesia saat itu. Saya juga membayangkan kapan kiranya masa seperti itu akan datang lagi di kemudian hari.

Kembali ke Jakarta

Kami meninggalkan Bandung menjelang Asar. Prosesi syuting yang cukup menguras tenaga di sela puasa membuat badan kami kelelahan dan tak kuasa menahan kantuk. Perjalanan pulang lebih banyak kami habiskan dengan tidur, kecuali Pak Wisber yang hanya sempat terpulas sebentar lalu melanjutkan membaca koran yang sejak masuk mobil telah beliau baca. Rupanya stamina kami yang muda-muda ini masih kalah dibandingkan Pak Wisber yang telah memasuki usia lanjut.

Kami tiba di Jakarta, tepatnya di rumah Pak Wisber, persis ketika Azan Maghrib berkumandang. Ajakan beliau untuk berbuka puasa bersama di rumah terpaksa kami tolak karena kami tengah diburu waktu. Beberapa di antara kami sudah ada janji bertemu dan berbuka puasa dengan teman-teman di lain tempat. Maka jadilah kami membatalkan puasa di dalam mobil. Seteguk teh botol dan kemacetan Jakarta menemani buka puasa kami hari itu.

foto-foto: http://www.facebook.com/#!/album.php?aid=200453&id=698972878

 
Leave a comment

Posted by on 31 August 2010 in Sekdilutivities

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: