RSS

Des Alwi dan Kepedulian Sejarah (Bag. 2)

01 Sep

Oleh: Shohib Masykur

RUMAH ITU terletak di Jl Narada 36, Poncol, Jakarta Timur, tak jauh dari Stasiun Senen. Ukurannya tidak kecil tapi juga tidak besar, sekitar 10×20 meter. Walaupun terkesan kurang terawat, kondisinya masih terlihat bersih. Sebuah plang nama terpampang di beton atap rumah, “Yayasan 10 November.” Bangunan tersebut milik Des Alwi Abu Bakar, seorang wartawan, diplomat, pengusaha, sejarawan, sekaligus pelaku sejarah.

Setelah menapaktilasi Konferensi Asia-Afrika di Bandung sehari sebelumnya, saya bersama rombongan—Ismail Fahmi, Stania Puspawardhani, dan Antonius “Peye” Prawira Yudianto— mendatangi Des Alwi sebagai narasumber berikutnya pada siang terik Minggu, 29 Agustus 2010. Masih, ini juga untuk keperluan pembuatan film dokumenter tentang politik luar negeri Indonesia.

Kami disambut hangat Pak Des yang mengenakan baju lengan panjang warna putih bergaris dan celana jeans biru. Di usianya yang memasuki 83 tahun, beliau sudah tampak sepuh. Cara jalannya sudah tidak lagi kukuh. Namun semangatnya masih tetap menyala-nyala, tak kalah dari orang muda. Begitu datang, kami langsung disuguhi pemutaran film dokumenter tentang peringatan 62 tahun Voice of Free Indonesia, sebuah divisi otonom dari RRI yang bertugas mengampanyekan kemerdekaan Indonesia ke dunia luar. Di sana lah dulu Pak Des berkiprah sebagai wartawan.

Film berdurasi setengah jam ini berisi tentang sejarah perang kemerdekaan dan diplomasi perjuangan Indonesia 1954-1949. Di dalamnya terdapat adegan agresi militer Belanda, penangkapan Bung Karno dkk oleh Belanda, perundingan Linggajati, perundingan Renville, pengakuan kedaulatan dalam Konferensi Meja Bundar, hingga baku hantam pasukan Indonesia dengan Belanda. Semuanya asli tanpa rekayasa. Pak Des yang juga turut hadir di dalam film itu merupakan saksi sejarah langsung atas peristiwa-peristiwa bersejarah yang menentukan berdirinya Republik ini.

Di ruangan tempat Pak Des menerima kami memang terdapat puluhan dokumentasi film dalam bentuk seluloid. Hampir semuanya merupakan dokumentasi sejarah yang orisinil. Film-film itu merupakan bukti kepedulian Pak Des terhadap sejarah bangsa ini. “Saya sedih. Orang-orang muda sekarang sudah lupa dengan sejarah,” kata pria kelahiran Banda Neira, Maluku, 17 November 1927 ini mengungkapkan kegelisahannya.

Sebagai pelaku sejarah, Pak Des dekat dengan tokoh-tokoh utama pendiri Republik. Sebut saja misalnya Bung Hatta dan Sjahrir. Dua sosok ini merupakan orang yang turut mengader Pak Des. Dalam film dokumenter yang kami tonton sempat tertampil adegan di mana Pak Des dan Sjahrir tertawa bersama. Pada scene lainnya, Bung Hatta tersenyum kecil ke Pak Des.

“Kalau Bung Hatta orangnya teguh, kuat pendirian. Beliau selalu mengajarkan untuk tidak berdusta. Kerjakan dulu kewajiban baru meminta hak. Kalau Sjahrir orangnya demokratis, terbuka. Beliau bahkan tak segan-segan bermain gundu bersama kami yang masih anak-anak,” kata Pak Des mengenang kedekatannya dengan dua tokoh legendaris itu.

Berdasarkan catatan yang saya peroleh dari kabarinews.com, kedekatan Pak Des dengan Bung Hatta dan Sjahrir bermula saat keduanya dibuang ke Banda oleh Belanda sebelum Indonesia merdeka. Saat itu sekitar tahun 1936. Sebuah kapal dari Papua yang mengangkut tokoh-tokoh nasional Indonesia berlabuh di pelabuhan Banda. Di antara tokoh-tokoh itu terdapat Bung Hatta, Sjahrir, Cipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri. Bersama teman-temannya, Pak Des yang kala itu berumur 8 tahun mengantarkan mereka ke rumah pengasingan masing-masing. Mulai saat itu Pak Des bergaul akrab dengan mereka hingga ketika berumur 18 tahun beliau diajak ke Pulau Jawa oleh Bung Hatta. Sejak itu Pak Des terus bersentuhan dengan berbagai peristiwa bersejarah penting di negeri ini.

*  *  *

Kami mulai mewawancarai Pak Des sekitar pukul 16.00 WIB. Pak Asep, salah seorang asisten Pak Des, membantu kami mempersiapkan wawancara. Tampaknya dari kemarin kami selalu berhubungan dengan orang yang bernama Asep (penjaga Museum KAA juga bernama Asep).

Wawancara kami dengan Pak Des berlangsung hampir satu jam. Dengan penuh semangat Pak Des bercerita panjang lebar seputar politik luar negeri Indonesia, sejarah implementasinya, keterkaitannya dengan kepentingan ekonomi Indonesia, relevansinya di zaman sekarang, hingga kasus terhangat konflik Indonesia-Malaysia yang sekarang tengah menjadi sorotan. Undangan yang telah menanti Pak Des pukul 17.00 WIB tidak memberi kami banyak waktu untuk berbincang lebih jauh dengan mantan atase kebudayaan di beberapa negara ini. Namun beliau berjanji untuk berbagi film-film dokumentasi koleksinya, film-film yang merupakan kumpulan artefak sejarah yang selama ini terlantar karena kurangnya perhatian dari banyak kalangan, terutama pemerintah.

Kami meninggalkan kantor Yayasan 10 November sekitar 17.00 WIB. Saat hendak berangkat itulah terjadi insiden kecil namun cukup mengganggu. Mobil Peye yang diparkir mepet membelakangi tiang listrik berjalan mundur tanpa sekehendak sang majikan. Tak pelak, bemper belakangnya mencium tiang. Parahnya lagi, persis di bagian tiang yang tercium bemper menongol tonjolan tempat sekrup. Walhasil, bemper pun lantas berhias dua lobang memanjang ke atas, sekitar 2 cm. Yah, yang namanya halangan memang serba tak terduga, bisa muncul kapan saja dan di mana saja.

Biografi Des Alwi

(sumber: kabarinews.com)

Nama Lengkap:

Des Alwi Abu Bakar

Lahir :
Banda Neira,
Kepulauan Maluku.

17 November 1927

Pendidikan :
– Ivevo Kramat Batavia
(1941-19440
– Matriculation, Poly Technical School bagian Sound & Radio di Nederland pada Nederlandse Seintoeshellen Fabric (Phillips)
– Latihan Tropikal Frequency Menengah di PTT Bandung

Profesi :
– Produser Film
– Atase Kebudayaan RI di Bern, Wina, Budapest, dan Manila
– Ketua Delegasi Indonesia dalam Festival Film Karlovy Varri tahun 1954
– Pembina Pembuatan Film-film Dokumenter Kebudayaan
– Pembantu Sutradara
– Direktur Public dan International Relation Bouraq Airlines
– Ketua Yayasan 10 November 45

========

foto-foto: http://www.facebook.com/#!/album.php?aid=200453&id=698972878

 
Leave a comment

Posted by on 1 September 2010 in Sekdilutivities

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: