RSS

Upin Ipin Terbangkan Garuda

02 Sep

Oleh: Ismail Fahmi*

ISTRI SAYA gembira bukan main. Pagi itu sepulangnya saya dari sholat subuh di Masjid, dia tersenyum puas mendapatkan selembar kertas bergambar Upin Ipin sebagai bonus makanan ringan kesukaannya. Istri saya memang gemar sekali tokoh Upin Ipin yang saban hari ia saksikan di sebuah stasiun televisi swasta nasional. Keeratan ‘persahabatan’ Istri saya dengan Upin Ipin tak  kalah dengan anak-anak TK dan Sekolah Dasar dengan kegemaran sama.

Upin Ipin memang sangat sukses di Indonesia. Lantaran kepopulerannya, ungkapan khas “Betul, betul, betul” ala Upin Ipin pun sampai ditiru sebuah iklan komersil di radio. Bahkan, saban Magrib selama Ramadhan, Upin Ipin setia memimpin doa berbuka puasa di sebuah stasiun televisi nasional. Lalu, di Facebook, sudah ada 113 ribu orang yang me”like this” Upin Ipin.

Kisah sukses Upin Ipin merantau di Indonesia ini mengingatkan saya pada 2 juta TKI yang merantau ke Malaysia. Nasib TKI itu juga yang disebutkan Presiden SBY semalam ketika menyoal hubungan Indonesia-Malaysia yang belakangan kian panas dan kehilangan kehangatannya.

Setelah ditunggu-tunggu berhari-hari, SBY akhirnya angkat suara. SBY tidak mungkin lagi berdiam diri akibat kian besarnya reaksi publik terhadap kasus pemborgolan tiga orang pegawai Kementrian Kelautan dan Perikanan oleh petugas Malaysia. Resume dari pidatonya jelas, bahwa Indonesia sudah menyatakan ketegasan sikap kepada Malaysia. Namun, SBY ingin mengingatkan publik, bahwa bagaimanapun, hubungan baik kedua negara jauh lebih menarik ketimbang adu urat saraf yang tidak jelas ujungnya. Perang, tentu bukan pilihan.

Indonesia, kata SBY, memiliki hubungan saling menguntungkan dengan Malaysia sejak lama. Walaupun kalau hitung-hitungan skor di sektor yang ’bergengsi’, Indonesia bisa dibilang masih minus dibandingkan Malaysia. Mari kita sebut satu persatu sebagaimana yang disebutkan SBY semalam.

Mahasiswa Indonesia yang belajar di Malaysia berjumlah 13 ribu orang. Sedangkan Mahasiswa Malaysia yang belajar di Indonesia berjumlah 6 ribu orang. Sementara itu, nilai perdagangan kedua negara hingga tahun 2009 lalu telah mencapai US$ 11.4 miliar. Nilai investasi Indonesia di Malaysia tahun lalu sekitar US$ 500 juta. Sedangkan nilai investasi Malaysia di Indonesia periode yang sama sekitar US$ 1.2 miliar.

Presiden SBY sempat menyinggung jumlah wisatawan Malaysia yang berkunjung ke Indonesia tahun lalu. Jumlahnya mencapai 1.18 juta orang. Cukup menggembirakan. Namun, jumlah itu jadi terasa mengkhawatirkan karena ternyata jumlah wisatawan Indonesia ke Malaysia dua kali lipat lebih banyak, yaitu, 2.4 juta orang.

Dari semua ketertinggalan itu, sektor tenaga kerja bisa membuat Indonesia bertepuk dada. Menurut SBY, saat ini terdapat 2 juta TKI di Malaysia. Jumlah yang sangat besar untuk meraup devisa.

Jumlah TKI yang nyaris sebanyak warga kota Bandung itu tentu saja tidak semuanya jadi pekerja kelas ’kuli’. Banyak juga yang sukses menapaki karir hingga level direksi. Sayangnya, kisah sukses TKI di negeri jiran itu tidak banyak yang terpapar media. Lantaran bad is a good news, media massa pun lebih gemar mengabarkan kisah miris para pahlawan devisa.  Sebut saja kasus penganiayaan pembantu oleh majikan yang dialami Nirmala Bonat di tahun 2003 dan Siti Hajar di tahun 2009. Walhasil, negeri serumpun yang punya sejarah panjang hubungan mesra kerjasama itu pun seperti melulu diwarnai kisah-kisah memilukan.

Tidak hanya di sektor riil seperti persoalan ketenagakerjaan. Hubungan Indonesia-Malaysia juga berulangkali diwarnai perkara dugaan pencurian kekayaan budaya bangsa. Sebut saja di antaranya: tari Pendet, keris, batik, wayang, dan reog yang dari dulu sudah beken di ponorogo itu. Ketika kasus-kasus itu mencuat ke permukaan dan dikonsumsi publik tanah air, bukan main panasnya suasana di lembaran dan layar kaca media massa.

Saya teringat kembali dalil diplomasi yang diungkapan SBY tadi malam, ”semakin dekat dan erat hubungan dua negara, semakin banyak masalah yang dihadapi.”

Jauh sebelum suasana panas Indonesia-Malaysia dalam beberapa hari ini, saya dan istri jalan-jalan di Monumen Nasional. Pedagang asongan berjualan di sana-sini dengan beraneka rupa mainan anak-anak dengan satu tema: Upin dan Ipin. Tidak jauh dari para pedagang itu, seorang ibu membantu anaknya menaikkan layang-layang bergambar Garuda dengan dikerek sebuah balon gas bergambar Upin Ipin. Sang anak ceria dan si ibu gembira. Aaahhh… damai sekali pagi itu.

============

*) penulis adalah alumnus Jurnalistik, Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. Sebelum mengabdi di Kementrian Luar Negeri, Penulis pernah bekerja sebagai wartawan di TVOne, Elshinta TV, Tabloid Opini, Metro TV dan Majalah GATRA.

 
1 Comment

Posted by on 2 September 2010 in Uncategorized

 

One response to “Upin Ipin Terbangkan Garuda

  1. m0slem l0ver

    31 March 2011 at 08:15

    yupz btol bgt,
    sya pkerja ind0nesia di malaysia,
    kyaknya kita harus membuang gengsi dan mulai belajar dr malaysia

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: