RSS

“MOM, DAD, I AM NOW A DIPLOMAT”

04 Oct


Oleh: Astari Mareska Daenuwy


Pidato Kesan dan Pesan Peserta Sekdilu
Pada Acara Penutupan Sekdilu Angkatan XXXV
Jumat, 1 Oktober 2010
Gedung Caraka Loka, Jakarta

Yang terhormat, Bapak Menteri Luar Negeri,

Yang terhormat, Bapak Wakil Menteri Luar Negeri,

Yang terhormat, Ibu Kepala Pusdiklat,

Yang terhormat, Bapak Direktur Sekolah Dinas Luar Negeri,

Yang terhormat, Bapak Hassan Wirajuda,

Para pejabat eselon satu dan dua di Kementerian Luar Negeri,

Para widyaiswara, Bapak dan Ibu Duta Besar Pembina Sekdilu 35, jajaran UPT Sekdilu,

Para orangtua, kakak-adik, istri, suami, keluarga yang kami kasihi,

Teman-teman Sekdilu angkatan 35 yang kami cintai, we did it!!!!

Setelah 9 bulan kita bersama mengikuti pendidikan dan pelatihan Sekdilu, akhirnya sampailah kita pada saat ini, bersama orangtua dan keluarga yang kita kasihi, menunggu detik-detik penutupan Sekdilu 35.

Saya ingat sekali ucapan mami saya waktu saya memutuskan untuk masuk Kementerian Luar Negeri.  Waktu itu dia mengatakan, “Kamu yakin mau jadi P N S?” Seakan-akan ingin meyakinkan dirinya bahwa dia sedang tidak bermimpi anak putri satu-satunya mau bekerja sebagai pegawai pemerintah.

Ayah saya juga berkata, “Untuk apa kamu jadi P N S? Dengan pendidikan dan pengalaman yang kamu miliki, kamu bisa berkarya di tempat lain yang lebih professional, tidak birokratis, dan mendapat gaji yang lebih tinggi!”

Tetapi saya telah mengambil keputusan untuk menjadi seorang diplomat, dan orangtua saya yang selalu mendukung keputusan-keputusan saya, yang tentunya tidak merugikan, mengantar saya ke PRJ Kemayoran untuk ikut ujian masuk Sekdilu.

Keputusan saya masuk Kemlu pada tahun 2009 adalah salah satu keputusan saya yang terbaik.  Mengapa? Karena ternyata saya diberkati dengan kekayaan yang tidak ada bandingannya.

Kekayaan itu adalah Sekdilu angkatan 35.

Sekdilu telah membuat saya dan kita semua lebih kaya. Meskipun tidak kaya dalam hal nominal, atau uang, tetapi kaya akan ilmu, pengetahuan dan pengalaman.  Terutama juga persahabatan karena sekarang teman kita bertambah sebanyak 147 orang.

Teman-teman Sekdilu semuanya unik dan datang dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Ada yang jauh-jauh datang dari Aceh dan Kupang. Ada yang sifatnya pendiam dan kalem, ada yang heboh dan selalu meramaikan suasana. Kita juga berbeda dalam latar belakang pendidikan, warna kulit, warna rambut, tinggi badan, dan berat badan.  Masing-masing dari kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun ternyata kita saling melengkapi dan semua perbedaan itulah yang membuat angkatan ini sungguh kaya.

Angkatan ini juga memiliki semangat juang yang tinggi.

Semangat ini terlihat pada saat kita sedang menghadapi ujian-ujian, taskap, wawancara taskap dengan para widyaiswara dan pembina yang sangat keras dan strict, dan terutama waktu rapelan gaji kita sedikit terhambat.  Semangat juang ini membuat kita tetap bertahan di Sekdilu dan memberanikan diri untuk memperjuangkan hak kita karena kita telah memenuhi tanggung jawab kita.

Seperti yang diingatkan oleh Bapak Darmansjah Djumala, Kepala Pusdiklat sebelumnya dan sekarang telah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Polandia, semangat juang itu sangat penting untuk dimiliki oleh seorang diplomat.  Apalagi dengan segala tantangan yang akan kita hadapi nanti setelah keluar dari Sekdilu.

Selain itu angkatan ini memiliki semangat kreatifitas yang sangat tinggi.  Ternyata, Pak Menteri, calon-calon diplomat ini tidak hanya jago dalam soal substansi, tetapi juga jago dalam membuat berbagai macam acara seperti pembuatan film, band musik, paduan suara, sendratari, parodi, dan tarian fogging Hindustani. Mungkin suatu saat nanti Pak Menteri mendapat kesempatan untuk menikmati performance yang terakhir ini, dari para perjaka-perjaka Sekdilu 35.

Begitu banyak kenangan manis yang kita alami seperti senam pagi-pagi buta semasa prajab, berkaraoke di Inul Vista, mencari buah misterius bernama markisa di Malino, menjelajah gua dan bermain air terjun di Bantimurung, merayakan ulang tahun dengan siraman air, kepergok nonton di Senayan City bersama sang kekasih, dan beribu kenangan manis lainnya.

Tetapi tentunya kita tidak bisa terus menerus melihat ke belakang.  Sekarang adalah waktu kita melihat ke depan. Apa yang akan kita lakukan di masa sekarang akan membentuk diri kita di masa depan.  It all starts now, it all starts with each and everyone of us.

Teman-teman Sekdilu 35,

Kita semua tentunya ingin untuk merubah dunia, memperbaiki Indonesia, berjuang demi bangsa dan negara.  Semua itu adalah cita-cita yang tinggi yang harus kita kejar.  Tetapi untuk mencapai itu semua kita harus atur langkah dulu, dan langkah pertama adalah dengan diri kita sendiri.

Kita harus mengubah mindset kita dari seorang akademik menjadi seorang working professional.

Waktu kita di Sekdilu, sebagian besar penilaian kita berada pada pemahaman kita mengenai teori-teori hubungan internasional, ekonomi, hukum, politik, dan lain sebagainya.  Tetapi pada saat kita memulai bekerja ada elemen baru yang harus kita miliki dan itu adalah bagaimana kita berinteraksi dengan sesama kita. Lebih tepatnya lagi, sikap kita atau attitude.

Sebenarnya attitude inilah yang menentukan kesuksesan seseorang, bukanlah nilai atau ranking.

Your attitude determines your altitude.

Apalah arti nilai atau ranking tinggi, tetapi hasil pekerjaan kita tidak baik, kita lebih senang bergosip daripada bekerja, atau tidak bisa membawa suasana yang nyaman dalam lingkungan kerja? Kalau kata mami saya, “itu namanya pinter keblenger”.

Tetapi apabila nilai atau ranking kita biasa-biasa saja dan ternyata pekerjaan kita bagus, kita jujur dan memiliki integritas tinggi, bertanggungjawab, dan disenangi sama teman-teman kerja, trust me…we will all go far in our careers.

Jadi, perubahan harus dimulai dari diri kita.

Lakukanlah perbuatan yang berdampak baik di sekitar kita.  Satu perbuatan berdampak seperti riak-riak yang timbul di kolam waktu kita melempar batu ke dalamnya. Oleh karena itu jadilah orang yang melempar batu perbuatan yang positif, yang membawa dampak positif.

Saat ini saya tahu bahwa apa yang ada di dalam benak teman-teman adalah tentang penempatan magang. “Saya dapat di mana ya?”  Kalau boleh saya anjurkan, lebih baik kita berpikir tentang apa yang akan kita lakukan di tempat magang kita, di manapun itu berada.

Persiapkanlah diri kita baik-baik, pahami negara dan masyarakatnya, bertemanlah sebanyak-banyaknya, nikmatilah kebudayaannya, dan keluarlah dari comfort zone kita.

Jangan takut untuk membuka diri, belajar hal-hal baru, mencicipi makanan baru.  Saya saja yang sudah termasuk ..ummm…dituakan di antara teman-teman seangkatan masih selalu belajar, apalagi teman-teman yang umurnya masih…umm 2/3? 1/3? dari saya? Dudy mana? Ya pokoknya lebih muda deh!
Teman-teman,

Kemarin mami saya berkata, “Astari, jadilah diplomat yang ulung dan bukan diplomat yang pemulung.”

Maksudnya adalah:

Diplomat yang ulung adalah diplomat yang handal, mampu menerima segala macam pekerjaan dan melakukannya dengan baik.  Tidak memilih-milih pekerjaan yang hanya sesuai dengan seleranya saja.

Seorang diplomat yang ulung juga adalah seorang yang berani berbuat dan bertanggungjawab, tidak seperti pemulung yang mengacak-acak tumpukan kemudian pergi dengan begitu saja.

Selain itu, seorang diplomat yang ulung juga harus bisa menyatakan “Siap!” bukan hanya dengan perkataan saja, tetapi juga dengan perbuatan dan di dalam hati. Janganlah kita memagari diri dan menolak pekerjaan.  Menolak pekerjaan sama saja dengan menolak peluang untuk belajar, untuk menambah wawasan, untuk mengembangkan diri sehingga menjadi seorang diplomat yang all-around.

Dan yang terakhir, seorang diplomat yang ulung adalah diplomat yang tidak sombong, bekerja keras dan memberikan yang terbaik bagi negara ini tanpa mengharapkan imbalan apa-apa.

Menjadi diplomat yang ulung dimulai dari sikap kita sehari-hari. Dimulai dari cara kita berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita.  Dari bawahan, kolega kerja, sampai atasan.  Kita harus bisa menciptakan suasana yang hangat di manapun kita berada. Bawalah warna dan attitude yang positif agar bisa melihat segala tantangan atau masalah dari sisi positif.

Contohnya magang di bagian paspor. Mungkin kita berpikir, “apa sih yang saya dapat dari data entry beratus-ratus paspor? Mencetak beratus-ratus exit permit per hari?” Teman-teman, apabila kita lihat dari sisi positif, kita bisa lihat bahwa sebenarnya pekerjaan itu melatih diri kita ketelitian, kesabaran dan ketekunan.

Contoh lain adalah pekerjaan yang mungkin kita anggap merendahkan diri kita: “Saya kan lulusan S-2, ngapain saya bawa-bawa koper bos saya naik turun tangga pesawat, beresin kamar hotelnya, itu kan bukan substansi?” Justru pengalaman itu mengajar kita kerendahan hati dan menghargai setiap jenis pekerjaan, dari yang paling mudah sampai yang paling rumit.

Dimanapun kita ditempatkan, pekerjaan apapun yang kita dapatkan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya.  Kalau disuruh fotokopi ya fotokopi dengan rapih dan sesuai dengan permintaan.  Kalau disuruh mengantar surat, ya antarlah dengan tepat waktu.  Percayalah, apabila kita bisa melakukan pekerjaan kecil dengan baik maka pekerjaan besar dapat dilakukan dengan baik juga.

Akhir kata, atas nama seluruh angkatan Sekdilu-35 kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak Ben, Pak Hadi dan Ibu Tennike atas segala wejangan dan course counseling yang berjam-jam diberikan selama kami berada di Sekdilu.  Terimakasih Mbak Banga atas bimbingannya selama ini.  Terimakasih Bu Yetty, Pak Herman, Pak Mail, Pak Teddy, Pak Haryono, Pak Bagyo, atas dukungannya selama ini.

Kami juga berterimakasih sedalam-dalamnya kepada para orangtua dan keluarga yang berada di sini.  Tanpa kasih sayang dan dukungan dari mereka semua maka kami, anak-anak ini, tidak dapat berada di sini dan mengatakan: “Mom, Dad, I am now a diplomat.”

Thankyou.

***

 
9 Comments

Posted by on 4 October 2010 in Diplomatologi

 

9 responses to ““MOM, DAD, I AM NOW A DIPLOMAT”

  1. Frega Wenas

    10 October 2010 at 13:24

    Congartulation, Mbak Astari. Eventually you made it. Welcome to the real world. I’m confident that you can contribute significantly to our Foreign Affairs management in the future. Keep up your good works. God bless you. Cheers, Frega.

     
  2. Frega Wenas

    10 October 2010 at 13:26

    Congratulation, Mbak Astari. Eventually you made it. What an achievement. Welcome to the real world of bureaucracy. I’m confident that you can contribute significantly to our Foreign Affairs management in the future. Keep up your good works. God bless you. Cheers, Frega.

     
  3. luluk riedha

    1 February 2011 at 19:14

    Dear Astari
    i am really had big curiosity to read your article. I read every single words that you wrote.
    i have a dream to a diplomat as you are. but i don’t sure enough to prepare it. would you mind to tell me, what should i have to prepare? what about the test??? i wish i will hear your answer soon…..

     
  4. rumania alfaruq

    15 August 2012 at 19:43

    mba, ngena bgt tulisannya.
    aku fresh graduate, dan skrg udah kerja. pekerjaan q yg skrg memang ga linier dg jurusan akademik, begitupun dg pengalaman organisasi dg job desk tukang mikir, dan skrg hrs lbh kerja teknis.
    aku suka bgt dg wejangan2 ini:
    “Justru pengalaman itu mengajar kita kerendahan hati dan menghargai setiap jenis pekerjaan, dari yang paling mudah sampai yang paling rumit.

    Dimanapun kita ditempatkan, pekerjaan apapun yang kita dapatkan, lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya. Kalau disuruh fotokopi ya fotokopi dengan rapih dan sesuai dengan permintaan. Kalau disuruh mengantar surat, ya antarlah dengan tepat waktu. Percayalah, apabila kita bisa melakukan pekerjaan kecil dengan baik maka pekerjaan besar dapat dilakukan dengan baik juga.”

    aku jg daftar cpns kemlu 2012 utk formasi PDK, masih tunggu pengumuman nih. semoga lolos 🙂

    salam,
    arum

     
  5. YoHANNISTAmmu

    5 December 2012 at 10:46

    Mantap banget mbak Astari…. maaf saya tidak bisa comment di dalam bahasa Inggris jadi di dalam Indonesia aja ya. Yang mbak Astari bilang itu benar banget dan mengiinspirasi saya. Tulisannya panjang tetapi tidak membuat kita bosan membacanya karena sangat padat dengan ilmu yang sangat berguna.
    Rupanya kemampuan yang mbak miliki turunan dari orangtua… kalau orangtuanya bisa memberikan wejangan yang demikian hebat … diaktualisasikan sama anaknya yang pintar (dalam Ilmu dan attitude) …. maka hasilnya akan dahsyat luar biasa. Salut juga sama Mayor Frega …. kalimatnya mencerminkan seseorang yang pintar dan mempunyai attitude yang di atas rata-rata. Indonesia membutuhkan pemimpin yang seperti kalian. Maju terus di dalam karya … doa kami menyertai. GOD BLESS.

     
  6. Titik Sumaryati

    11 June 2013 at 09:22

    kak, saya mau tanya dong. kapannya pembukaan pendaftaran sekdilu selanjutnya? atau bulan2 dimana dibukanya pendaftaran sekdilu? ssangat ditunggu jawabanyya. terima kasih 🙂

     
  7. christiano

    29 August 2013 at 21:30

    diplomat itu status yang diberikan pada seorang staff kemenlu yang dinas diluar kedaulatan Indonesia, bon courage!

     
  8. amri

    25 December 2013 at 00:56

    selamat ya mbak,,,,,,semoga sukses, tapi jangan lupa sama kulitnya, terkadang diplomat setelah tugas keluar negeri menjadi sombong, padahal waktu di indonesia baik banget, tapi setelah mendapat tugas berubah 180 derajat, dan …

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: