RSS

Tentang Sondang dan Mau Ke Mana Kita

20 Dec

Oleh: Shohib Masykur

Tragis memang nasib Sondang. Tubuh mudanya terbakar. Jiwa bergeloranya meregang saat elmaut datang menyapanya tanpa ampun. Ya, elmaut barangkali merasa tidak perlu memberinya ampun, karena Sondang sendiri tidak menyediakan ruang pengampunan untuk dirinya sendiri. Dia bertekad dan memilih mati.

Kita tidak tahu persis apa yang mendorong Sondang melakukan itu. Dia sudah tidak bisa lagi dikonfirmasi. Kita hanya bisa mengira-ngira, menghubung-hubungkan tindakannya itu dengan agresivitas dia sebelumnya dalam memperjuangkan HAM.

Bahkan untuk ukuran aktivis paling radikal sekalipun, tindakan Sondang tergolong sangat ekstrem. Soe Hok Gie, aktivis radikal dan tak kenal kompromi yang pernah menuliskan keinginannya mati muda di catatan hariannya itu, pun tak senekat Sondang.

Pada akhirnya Gie memang mati muda di usia 27 tahun. Tapi bukan api yang dinyalakan dengan sepenuh kesadaran diri yang menjadi penyebabnya. Gie terpaksa menyerah oleh keganasan asap beracun di gunung Semeru yang coba ditaklukkannya.

Sondang, seperti juga Gie, memang tidak sendirian di dunia. Tapi di Indonesia, negeri di mana determinasi dan konsistensi adalah barang mewah, keduanya adalah barang antik yang tidak banyak jumlahnya. Sekali berarti, sudah itu mati, teriak Chairil.

Di Tunisia menjelang huru-hara, aksi bakar diri Muhammed Bouazizi, juga seorang pemuda, mampu memantik gejolak yang benih-benihnya telah berakar lama. Kita semua menyaksikan, lanjutan dari drama itu adalah runtuhnya rezim otoriter Ben Ali yang sudah kadaluwarsa. Di Mesir dan Aljazair, dua negara yang menyusul bergolak, bakar diri juga terjadi sebagai bentuk protes terhadap rezim yang terlalu berkuasa dan semena-mena.

Apakah Sondang meneriakkan suara keadilan yang sama? Mungkin iya. Apakah hasilnya akan serupa? Saya kira kita semua bisa menduga jawabannya. Sondang memang telah memantik dengan api di tubuhnya. Tapi percikan yang dia timbulkan tidak disambut oleh minyak yang siap menjalarkan apinya.

Yang lebih sedih lagi, percikan itu selekasnya akan mati tersaput oleh kencangnya hiruk-pikuk memekakkan yang setiap hari hadir di televisi. Sondang, akhirnya, akan tertimbun oleh debu-debu keruwetan negeri ini yang setiap saat selalu menyajikan sesuatu yang baru.

Peringatan dari Herbert Simon, peraih nobel ekonomi 1978, berdengung di telinga kita. “A wealth of information,” kata Simon nyinyir, “creates a poverty of attention.” Sekarang kita gerah, tapi selekasnya kita akan teralihkan. Itulah ironi bersama kita di zaman informasi.

Jika di zaman yang sama Bouazizi di Tunisia bisa menjadi mercusuar mega-aksi, kenapa Sondang harus lain? Barangkali jawabannya ada pada demokrasi. Pergolakan yang turut dipantik oleh Bouazizi diabdikan untuk meraih apa yang sudah dimiliki Sondang: demokrasi. Eh, tapi benarkah Sondang sudah memilikinya?

Pengamat politik manapun, saya kira, akan mengatakan Indonesia adalah negara demokrasi. Setidaknya secara prosedural kita telah melakukan ritual-ritual yang dijalankan oleh semua negara demokrasi. Kita mengenal pembagian kekuasaan. Kita melakoni pemilu. Kita memuja kebebasan pers. Dan masih banyak lagi rentetan yang bisa dipasangkan untuk mengafirmasi bahwa Indonesia adalah negara demokrasi.

Bahwa kita masih punya masalah besar dengan korupsi. Bahwa kita masih menangisi pelanggaran HAM yang masih saja terjadi. Bahwa kita merintih menyaksikan kelaparan di seberang halaman. Itu semua menandakan bahwa harapan yang dijanjikan oleh demokrasi, serupa impian yang disabdakan oleh kemerdekaan, butuh perjuangan tambahan agar mewujud.

Sebelum merdeka, kita membayangkan semua masalah akan selesai setelah penjajah pergi. Faktanya, tidak begitu yang terjadi. Pasca-proklamasi, masalah tetap ada, dan kian hari justru kian menggumpal. Pun demikian dengan reformasi. Setelah rezim yang tidak kita sukai tumbang pada bulan Mei, lalu ada apa dengan demokrasi?

Kita semua gelisah dan bertanya-tanya. Mau ke mana kita? Mengapa demokrasi yang di tempat lain bekerja dengan baik itu, di Indonesia memunculkan anomali-anomali? Yang terjadi sepertinya demokrasi telah memajalkan yang kita punyai tentang empati, menumpulkan yang kita miliki tentang ketajaman berlogika dan nurani. “Sondang” di Tunisia adalah pemantik api yang disambut dengan gegap gempita. Tapi Sondang di Indonesia hanyalah percik api yang sebentar menyala.

Semua ini tentang oligarki, bisik Jeffrey A. Winters dalam Oligarchy (2010). Para pemiliki modal besar di negeri ini dulu patuh di bawah komando sang komandan yang berperan layaknya Don Corleone dengan “tawaran yang tidak bisa ditolak.” Setelah sang komandan “pensiun,” para oligarkis itu menjadi liar tanpa seorang pun sanggup menundukkan. Mereka lah yang membajak demokrasi hingga menjadi seperti sekarang ini.

Ini hanya salah satu tesis yang mencoba mencari tahu ada apa dengan demokrasi di Indonesia yang penuh anomali ini. Dan Jeffrey, si pencetus itu, angkat tangan ketika ditanya apa yang harus dilakukan untuk mengobatinya. Saya kira banyak dari kita yang akan melakukan hal serupa, mengangkat tangan saat ditantang untuk membenahi Indonesia.

Tapi benarkah tindakan demikian? Sahkah kita putus asa? Sondang berteriak ke kita: tidak! Bagi saya yang ingin ditunjukkan Sondang bukanlah keputusasaan menghadapi situasi, melainkan determinasi untuk mengubah kondisi. Jika saja masing-masing kita memiliki sebagian kecil dari determinasi Sondang untuk mati, dan mendedikasikan determinasi itu untuk memperbaiki negeri ini, saya kira tidak ada alasan Indonesia berhenti menyemaikan harapan.

Manakala yang terhampar di depan mata kita hanyalah kesuraman yang tak bertepi, maka hanya keyakinan yang akan membuat kita bertahan. Keyakinan bahwa jika kita terus berjalan, pada akhirnya tepian akan kelihatan. Keyakinan bahwa kesuraman itu tak selamanya, dan cahaya yang indah menanti kita di seberang.

Maka, percikan api yang Sondang pantik pun tidak akan sirna. Mungkin dia padam tertiup angin kencang bombastisme peristiwa-peristiwa lain. Tapi itu hanya di media. Sementara di hati kita, percikan itu tetap ada dan terpelihara, semakin lama nyalanya semakin besar, dan akan menjadi mercusuar pribadi bagi kita masing-masing untuk menjadi “pemimpin besar revolusi kecil-kecilan.” Bukankah, kata Schumacher, kecil itu cantik?

 
Leave a comment

Posted by on 20 December 2011 in Newsflash

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: