RSS

Pemerintah dan Kuasa Media

23 Dec

Oleh: Ismail Fahmi

Pemerintah yang teguh berprinsip merupakan kunci dari  kepastian masa depan bangsa. Pemerintah yang teguh berprinsip tentunya bukan pemerintah yang bebal dan tuli dari masukan kanan dan kiri. Namun, adalah pemerintah yang mampu mengambil langkah benar dan tepat di tengah lautan ragam suara massa dan tarik ulur kepentingan yang begitu kuat.

Keteguhan itu diuji di tengah semakin banyaknya pemain yang bisa menggiring dan menentukan arah sebuah kebijakan. Itulah buah dari demokrasi yang terfasilitasi akses mudah ke media massa dan juga media sosial.

Media massa dan media sosial yang berkembang saat ini telah menjadi wahana paling efektif dalam mengarahkan dan menentukan nasib sebuah bangsa. Fenomena “Arab Spring” disebut-sebut sebagai salah satu contoh terkini bagaimana sebuah gerakan di media massa dan media sosial bahu membahu menggulingkan pemerintahan yang dinilai koruptif.

Di dalam negeri, bukan satu dua kali agenda pemerintahan tersandera peristiwa dan opini publik tertentu. Walhasil, laju langkah pemerintah pun terhambat. Dalam beberapa kesempatan, langkah yang diambil pemerintah terkesan mengikuti dan berimprovisasi terhadap arus besar opini di media massa dan media sosial.

Membaca Kuasa Media dan Publik

Pada tahun 1970-an, muncul sejumlah teori komunikasi yang menjadikan media massa sebagai objek kajian. Di antara sekian banyak teori yang mengemuka saat itu, muncul Agenda Setting Theory (Maxwell McCombs & Donald Shaw; 1972) dan Uses and Gratification Theory ((Katz, E., Blumler, J. G., & Gurevitch, M.; 1974).

Agenda Setting Theory menyebutkan bahwa media massa berperan besar dalam menentukan penting atau tidak pentingnya sebuah isu, agenda, dan peristiwa untuk diwacanakan di tengah publik. Berdasarkan teori tersebut, media massa merupakan aktor utama yang menentukan agenda yang dianggap penting oleh publik.

Dalam prakteknya, media massa memang memiliki mekanisme internal untuk menayangkan (tv), memperdengarkan (radio), memuat (cetak), dan mengunggah (online) sebuah peristiwa, isu, maupun agenda tertentu. Tingkat kepentingan sebuah persoalan dapat dilihat dari bagaimana media tersebut menempatkan satu isu dengan isu lainnya sesuai dengan rezim tata letak halaman maupun penggalan segmen dan durasi di media elektronik. Persoalan yang dianggap penting akan mendapatkan pengutamaan dan porsi pemberitaan lebih dibandingkan persoalan lainnya.

Sebaliknya, Uses and Gratification Theory menilai publik sebagai khalayak yang aktif ketimbang pasif. Teori tersebut menyebutkan bahwa publiklah yang menentukan agenda apa yang penting buat mereka. Menurut teori ini, publik memilih sebuah media (dan agenda yang dibawanya) ketimbang media lainnya sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan dan memberikan kepuasan dirinya. Berdasarkan teori ini, publik lah yang memiliki kemampuan untuk mengarahkan agenda media massa.

Agenda Setting Theory dan Uses and Gratification Theory merupakan teori yang muncul pada dekade awal tahun 1970-an. Keduanya muncul untuk menjawab fenomena kebangkitan dan kejayaan media massa saat itu dan peranannya dalam menentukan pola perilaku masyarakat, terutama terkait pilihan-pilihan politik mereka saat itu. Tentunya media massa konvensional saat itu barulah televisi, radio, koran, majalah, dan sejenisnya.

Semua jenis media massa tersebut secara umum memiliki arus komunikasi yang satu arah. Apa yang disampaikan oleh media massa tidak dapat direspon oleh publik secara langsung. Walaupun, hal itu relatif dapat diakomodir oleh televisi dan radio yang dapat menangkap umpan balik publik secara langsung melalui telepon interaktif. Namun, tentunya cara tersebut memliki keterbatasan karena hanya kalangan yang sangat terbatas saja yang mampu melakukan umpan balik secara langsung.

Koran dan media cetak lainnya tidak memiliki mekanisme instan untuk menerima dan memuat respon publik secara langsung. Mekanisme penerbitan yang dimulai dari pencarian, pengumpulan, pengolahan, dan distribusi terjadi dalam siklus yang pasti. Umpan balik yang diberikan pun harus mengikuti siklus tersebut. Media cetak umumnya menampung respon publik melalui mekanisme ”surat pembaca” yang hanya akan dimuat pada edisi berikutnya.

Secara umum, media massa konvensional memiliki dimensi ketertundaan yang tinggi dalam menerima tanggapan publik. Kondisi ini secara otomatis menghambat percepatan dinamika sebuah persoalan dan memagari peran serta publik dalam jumlah besar. Keterbatasan itulah yang dapat diatasi oleh media massa kontemporer.

Teknologi komunikasi saat ini, internet misalnya, meningkatkan percepatan perguliran dinamika sebuah persoalan. Sebuah peristiwa yang terjadi siang ini di Papua dapat seketika diketahui oleh warga di Aceh begitu beritanya masuk ke jaringan internet. Seketika itu juga respon publik dari sabang sampai merauke dapat tersampaikan. Hal itu diantaranya terakomodir melalui fasilitas ”komentar” yang disediakan hampir semua portal.

Fenomena tersebut tidak hanya menghasilkan budaya komunikasi imbal balik yang semakin cepat, namun juga ’menciptakan’ semakin banyak aktor yang dapat menentukan arah agenda sebuah persoalan. Saat ini, mulai dari penguasa, pengusaha, sampai mahasiswa, dapat duduk sejajar dalam sebuah diskursus kebijakan publik. Pendapat seorang pejabat di media massa dapat seketika direspon seorang mahasiswa dan dengan mudah dikursus itu menyebar ke orang khalayak ramai.

Sikap Tanpa Popularitas

Relevansi Agenda Setting Theory dan Uses and Gratification Theory dalam menjawab kondisi aktual komunikasi massa saat ini pun diuji. Apalagi, kedua teori tersebut muncul di dekade 70-an yang notabene ’kuno’ dan sangat tertinggal jika dibandingkan kondisi komunikasi massa saat ini. Walaupun begitu, secara konsep, jika kedua teori tersebut dikawinkan nampaknya justru semakin memperoleh relevansinya saat ini.

Memperbenturkan Agenda Setting Theory dan Uses and Gratification Theory dalam komunikasi massa sama halnya dengan membicarakan ”telur dulu atau ayam dulu”. Apakah media massa saat ini menentukan agendanya berdasarkan daya tangkapnya atas keinginan (gratification) publik, atau justru media massalah yang menentukan selera publik. Merujuk pada persinggungan kedua konsepsi itulah pemerintah dapat mengambil pelajaran.

Dengan kemampuan media massa membahasakan suara publik sebagaimana agenda setting yang dibangunnya, maka terbentuklah opini tertentu. Opini yang secara dominan menguasai ruang debat publik inilah umumnya yang dianggap sebagai suara rakyat. Sekalipun kita paham, bahwa setiap media massa pun memilki agenda tersendiri. Agenda tersebut merupakan buah dari pergulatan ideologi awaknya (diantaranya melalui rapat redaksi) dan kuasa modal yang menguasai media tersebut.

Media massa dan media sosial saat ini telah bertransformasi menjadi panggung yang efektif dalam memenangkan sebuah gagasan. Pemenangan sebuah gagasan secara instan diartikan sebagai ’suara rakyat’ yang karenanya dinilai sebagai sebuah gagasan yang benar. Padahal, sejarah membuktikan, kuasa gagasan dominan tidak berbanding lurus dengan kebenaran.

Di tengah dinamika pergulatan dominasi gagasan yang semakin kuat dan hebat di ranah publik itulah keteguhan pemerintahan dalam mengajukan dan mempertahankan sikapnya diuji. Pemerintah diuji apakah tetap dapat berdiri tegak dengan sebuah sikap yang benar, terukur, dan matang. Walaupun tidak jarang pengambilan sikap dan keputusan tersebut dikepung oleh suara dominan tertentu.

Senafas dengan sifat komunikasi massa dan gaya hidup saat ini, pemerintah pun dituntut untuk dapat mengambil sikap dan keputusan secara cepat. Namun, kecepatan bukan juga diartikan dengan langkah menjawab dan merespon secara terbuka semua agenda yang diajukan media massa dan publik. Maka yang diperlukan adalah bagaimana pemerintah dapat merespon secara cepat ’plus’ tepat serta teguh mempertahankannya, sekalipun itu tidak populer.***

 
Leave a comment

Posted by on 23 December 2011 in Uncategorized

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: