RSS

Memikirkan Pangan dalam Gurihnya Agrobisnis

28 Dec

Oleh: Raksa P. Ibrahim

Judul buku: Food for Thought: How Agribusiness is Feeding the World

Penulis: Rolando T. Dy

Tahun terbit: 2009

Penerbit/Kota: University of Asia and the Pacific (UA&P) dan CITO Foundation/Manila

Halaman: 258 (+xii)

Pangan adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia, namun dapat dikatakan bahwa masyarakat belum memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai proses kehadiran produk-produk pangan dalam keseharian mereka. Kurangnya pemahaman masyarakat ini disebabkan oleh, sebagai salah satu alasan, menurunnya partisipasi masyarakat dalam rantai persediaan pangan dunia.

Di saat yang bersamaan, tantangan global seperti pemanasan global dan peningkatan populasi manusia telah menjadi ancaman bagi persediaan pangan di berbagai negara. Ancaman pada ketersediaan suplai pangan dan sulitnya mendapatkan makanan akan semakin terasa di masa-masa mendatang.

Ancaman yang akan akan dihadapi masyarakat internasional semakin pelik bila masyarakat gagal untuk menempatkan kembali diri mereka dalam rantai persediaan makanan. Untuk memahami rantai persediaan makanan (food supply chain) maka  pengetahuan mengenai dasar-dasar, potensi dan kondisi agrobisnis dalam negeri dan kawasan sangat krusial untuk dimiliki.

Roland T. Dy mengangkat topik tersebut dalam bukunya yang berjudul Food for Thought: How Agribusiness is Feeding the World yang  membahas mengenai potensi agrobisnis di Asia Tenggara sebagai bagian dari solusi untuk mengatasi ancaman terbatasnya ketersediaan pangan.

Agrobisnis tidak bisa dilepaskan dari penyediaan pangan bagi masyarakat. Semenjak berubahnya orientasi manusia dari berpindah tempat (nomaden) menjadi menetap-bercocok tanam, pada saat itulah agrobisnis melekat dalam proses penyediaan pangan di berbagai penjuru dunia. Semenjak saat itu pula, secara perlahan agrobisnis tumbuh menjadi sebuah mekanisme kompleks dan sistem tata kelola yang melibatkan banyak pihak. Agrobisnis juga telah mendatangkan banyak keuntungan bagi banyak pihak yang terlibat.

Di dalam bukunya Dy berusaha untuk membagi pengalamannya di bidang agrobisnis sekaligus memperlihatkan kesempatan bagi masyarakat di Asia Tenggara untuk mengambil bagian dalam food supply chain. Dy beranggapan bahwa penyediaan/persediaan pangan merupakan isu yang sangat strategis bagi negara-negara di yang tergabung dalam Association of the South East Asian Nations (ASEAN).

Buku Food for Thought: How Agribusiness is Feeding the World secara runut menyajikan hal-hal mendasar dengan sentuhan detil yang tajam dan mendalam mengenai agrobisnis. Buku ini penuh dengan data yang menarik, seperti kondisi umum agrobisnis dunia, komoditas-komoditas utama pangan, pemain-pemain utama, lini-lini agrobisnis, kondisi agrobisnis di ASEAN hingga  kebijakan dan strategi dalam menjalankan agrobisnis untuk turut juga mengatasi kemiskinan, kelaparan dan ancaman keamanan pangan.

Nilai tambah utama dalam buku ini adalah pemaparan mengenai kondisi agrobisnis di kawasan ASEAN yang variatif. Dy menjelaskan bahwa perbandingan antara potensi dan output agrobisnis di kawasan ASEAN masih belum berimbang, mengingat ASEAN memiliki lahan dan sumber daya yang sangat melimpah. Dy juga memberikan kasus-kasus untuk memperlihatkan jurang antara potensi dan output yang belum bisa dijembatani oleh kebijakan yang ada sekarang. Kegagalan kebijakan ini secara umum dikarenakan oleh modal yang terbatas dan lemahnya pengawasan pemerintah.

Di dalam bukunya, Dy tetap optimis mengenai prospek agrobisnis dan semakin kuatnya peran ASEAN dalam food supply chain, baik di tingkat regional maupun global. Optimisme Dy didasari oleh kenyataan bahwa ASEAN adalah pasar yang sangat besar dengan pertumbuhan populasi yang terus meningkat serta didukung dengan ongkos pekerja yang relatif lebih murah daripada di kawasan lain. Dy beranggapan negara-negara ASEAN harus mempercepat implementasi cetak biru Komunitas Ekonomi ASEAN terutama menjelang momentum berdirinya Komunitas ASEAN.

Lebih lanjut, Dy  secara implisit menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Filipina dalam kerangka East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di Asia Tenggara. Dy melihat BIMP-EAGA sebagai jangkar utama dari pengembangan kerja sama bidang produk pangan di Asia Tenggara. Keterhubungan dan penguatan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah anggota BIMP-EAGA akan memberikan dorongan bagi kawasan-kawasan lain di Asia Tenggara untuk melakukan diversifikasi, pengembangan produk, peningkatan daya saing dan inovasi pengembangan produk pangan.

Buku yang ditulis oleh Dy mengajak para pembacanya untuk melihat kembali hal mendasar dari proses penyediaan pangan dewasa ini. Dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti dan penyajian data terkini, buku ini memberikan informasi yang jelas mengenai  proses penyediaan produk pangan hingga dapat dinikmati di meja makan. Informasi yang menegaskan bahwa ketersediaan makanan hingga saat ini sangat dipengaruhi pada tata kelola, partisipasi dan penguasaan masyarakat dalam food supply chain. Agrobisnis dapat menjadi salah satu resep yang gurih dalam mengatasi ancaman ketersediaan dan akses pada pangan. Oleh sebab itu, pengembangan kebijakan tata kelola produk pangan adalah salah satu isu yang perlu diperhatikan dalam upaya menghindari ancaman keterbatasan sumber pangan.

Penulis adalah alumni Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Saat ini bertugas sebagai staf UPT Sesparlu Pusdiklat Kementerian Luar Negeri. Tulisan ini pernah dimuat di Jurnal Diplomasi edisi Ketahanan Pangan dan Energi, September 2011.
 
Leave a comment

Posted by on 28 December 2011 in Library

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: