RSS

Menyingkap Peluang Kerja Sama Indonesia dan Panama

Pada tanggal 21 Desember 2011, Presiden Republik Indonesia melantik Duta Besar Luar Berkuasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Republik Panama. Untuk pertama kalinya Indonesia memiliki seorang Duta Besar yang akan ditugaskan di Panama City setelah dibukanya KBRI Panama City pada tahun 2010. Pelantikan Duta Besar LBPP untuk Panama tentunya akan mendekatkan hubungan kedua negara dan membantu upaya pencapaian kepentingan pemerintah Indonesia di Panama terutama dalam bidang perekonomian dan Keamanan.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 9 February 2013 in Uncategorized

 

Laut China Selatan: problematika dan prospek penyelesaian masalah

Oleh: Ahmad Almaududy Amri*

Banyak orang pernah mendengar dan bahkan mengetahui permasalahan Laut Cina Selatan (LCS) yang terjadi saat ini. Namun, banyak pula yang masih asing dan bingung akan latar belakang masalah: apa saja yang diklaim? Oleh siapa saja? Dan saat ini posisi persoalannya bagaimana?

Tulisan ini akan mencoba membahas dan menjeleskan peroblematika yang terjadi di wailayah LCS secara umum, singkat, dan jelas dengan tujuan agar mudah dimengerti dan dipahami. Selain itu, akan ada pula pandangan penulis mengenai prospek penyelesaian masalah ke depan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan berguna bagi para pembaca.

Tulisan ini khusus dipersembahkan untuk ulangtahun ke-3 Sekdilu 35. Saya pribadi berdoa agar teman-teman seangkatan diberikan kesehatan, kesuksesan, dan kekompakan untuk maju terus membangun Indonesia. Tulisan ini ditulis pada tanggal 27 Januari 2012, dalam nuansa Australian Day.

Read the rest of this entry »

 
6 Comments

Posted by on 27 January 2013 in Uncategorized

 

The battle against corporate influence

By: Muhammad Heikal

As a result of the ongoing economic crisis in the US, the Occupy Wall Street (OWS) Movement, initiated by Canadian activist group Adbusters, led a series of demonstrations on Wall Street.

The protests that began on Sept. 17, 2011 in Zuccotti Park, New York, centered around a philosophy of fighting social and economic inequality, greed, corruption and the undue influence of corporations on the government.

With the background of the late 2008 global financial crisis, sometimes referred to as the Great Recession, current economic conditions in the US continue to deteriorate. Many analysts have said the financial crisis, which was sparked by subprime mortgage mismanagement, was a result of irresponsible, unethical, excessively voracious and illegal business practices over the last few decades.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 5 April 2012 in Diplomatologi

 

Tags: ,

What Asean can learn from EU crisis

By: Rudi Winandoko

This writing is not to compare European Union and ASEAN. Two regional groups have very different social and economic characteristics. Based on GDP, economic power of EU is more than nine times that of ASEAN. EU also already started their integration in 1958, long before Bangkok Declaration of ASEAN. Despite the differences between EU and ASEAN, current EU crisis may give ASEAN valuable lessons ahead.

Eurozone crisis was triggered by many complex factors. Although economists might argue what the real cause of crisis, there are at least three interrelated factors in eurozone crisis for which ASEAN can take lessons.

 

First, disparity in economic competitiveness of member countries. It creates trade imbalance. Strong economies, such as Germany, have exports whose value is far exceeds their imports.  At the same time, weak economies, such as Portugal, Ireland, Italy, Greece, and Spain (PIIGS) are in the opposite condition.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 30 March 2012 in Diplomatologi

 

Tags: , ,

ASEAN and Indonesia’s Leadership

By: Antonius Prawira Yudianto

Established for more than four decades in Bangkok, Thailand, the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) has expanded to become a pivotal regional organization, not only in maintaining peace, security and stability in the region, but also in fostering closer collaboration with major players in the world. Originated from five member states, namely Indonesia, Malaysia, the Philippines, Singapore, and Thailand, ASEAN has expanded its membership to ten members, on April 30, 1999. While having its membership expanded, in 2003, ASEAN Leaders agreed to build an integrated region which is open, peaceful, stable, prosperous, and bounded by dynamic partnership through the establishment of the ASEAN Community in 2015.

The ASEAN Community consists of three pillars, namely, the ASEAN Political-Security Community, the ASEAN Economic Community, and the ASEAN Socio-cultural Community. Furthermore, at the 12th ASEAN Summit in Singapore, January 13, 2007, the ASEAN Leaders affirmed their commitment to accelerate the establishment of an ASEAN Community through the signing of the ASEAN Charter. Since then, ASEAN has gained a new status as a rules-based organization.

Read the rest of this entry »

 
1 Comment

Posted by on 27 March 2012 in Diplomatologi

 

Tags: ,

Mengenal(kan) Indonesia Lewat Film: Catatan Diskusi Bersama Riri Riza

Oleh: Shohib Masykur

Diskusi bersama Riri Riza

Sudah lama kita dibuat terpukau dan dimanjakan oleh film-film Hollywood. Sebagai mercusuar perfilman dunia, Hollywood telah melahirkan bintang-bintang yang menjadi idola jutaan pemirsa di muka bumi. Namun barangkali tidak banyak yang tahu bahwa di era 1930-an, seorang artis Indonesia asal Jawa telah menancapkan kaki di lumbung perfilman Amerika tersebut.

Dialah Dewi Dja, artis Indonesia pertama yang go international lewat peran yang dia mainkan di film-film “bercap” Hollywood. Di zamannya, Dewi Dja merupakan mega bintang yang digandrungi oleh kalangan penikmat film tanah air.

“Dewi Dja inilah artis Indonesia pertama yang go to Hollywood,” demikian tutur sutradara ternama Riri Riza dalam sebuah diskusi kecil di Kantor Kemlu, Pejambon, Jakarta, Kamis (16/2/2012) malam.

Read the rest of this entry »

 
2 Comments

Posted by on 20 February 2012 in The Diplomats

 

Tags: , ,

Refleksi Revolusi Mesir

AM. Sidqi

(Tulisan ini pernah dimuat di Harian Republika, 6 Februari 2012. Tulisan yang sama juga bisa dibaca di caraksara.blogspot.com)

Sejak digelindingkan setahun yang lalu oleh para pemuda di lapangan Tahrir, gelombang perubahan di Mesir telah menuai hasil yang berarti. Pengunduran diri Presiden Mubarak (11/2/11), pengadilan Mubarak dan anak-anaknya, pembebasan tahanan-tahanan politik, penyelenggaraan pemilu legislatif (Majelis Shaab) yang bebas dan transparan, dan pencabutan “status darurat” yang berlaku sejak 1981 oleh Dewan Militer. Pada peringatan setahun revolusi 25 Januari, rakyat kembali berkumpul dan menyerukan pengalihan kekuasaan dari militer ke sipil. Namun, Dewan Militer Mesir masih menunda penyerahan kekuasaan ke pemerintahan sipil hingga pemilihan presiden pada Juni mendatang.

Mencermati revolusi Mesir, sifat dari krisis politik tersebut memiliki kemiripan dengan krisis politik yang melanda Indonesia pada tahun 1997—1998. Diawali dengan tumbangnya pemerintahan Orde Baru, gerakan reformasi terjaga momentumnya dengan menjamin kebebasan pers, pembebasan tahanan-tahanan politik, penyelenggaraan pemilu 1999, serangkaian amandemen UUD 1945, otonomi daerah, serta berbagai perbaikan kebijakan dan regulasi.

Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on 7 February 2012 in Diplomatologi

 
 
%d bloggers like this: